Mengatasi Rasa Jenuh di Kelas

February16

Kejenuhan adalah rasa yang sering timbul selain rasa malas. Baik itu pada asiswa maupun pada Guru. Namun, lebih sering melanda siswa di sekolah. Apalagi, jam pelajaran eksak yang diletakkan di akhir pelajaran. Lapar, kantuk, dan lemahnya konsentrasi. Hal ini biasa terjadi, terutama pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem fullday dan bimbingan belajar. Kelas 9 dan XII misalnya, hampir setiap hari ketika dekat bulan ujian, mau tak mau mereka harus puas dengan seabrek soal untuk latihan.

Kebetulan saya memberikan bimbel untuk kelas 9 dan kelas XII. Nasib Guru bimbel, selalu disisakan semangat yang hanya tinggal 20%, bahkan tak jarang ditinggal tidur. Hal ini saya maklumi karena tenaga dan pikiran siswa saya sudah habis digunakan untuk menerima seabrek pelajaran. Melihat keadaan ini saya banyak bertanya kepada siswa, cara belajar apa yang diinginkan, supaya bimbingan belajar menjadi hal yang menyenangkan.

1. Belajar di Luar Kelas.

Cara belajar seperti ini paling banyak disarankan oleh siswa. Sembari merasakan udara luar, siswa saya ternyata lebih bisa berkonsentrasi dan menerima penjelasan dengan lebih santai dan segar. Untuk cara ini, sebaiknya digunakan ketika pembahasan soal, karena tidak begitu membutuhkan papan tulis untuk menerangkan materi. Selain di halaman sekolah, Mushola dan perpustakaan bisa menjadi alternatif yang cukup menarik.

2. Menggunakan Sedikit Trik.

Saya mendapatkan trik ini ketika kuliah. Ketika saya coba ternyata trik ini cukup membangkitkan semangat siswa ketika membahas soal. Tidak terlalu sulit. Soal pertama saya yang membaca, kemudian soal ke 2 saya menunjuk salah satu siswa laki-laki. Siswa tersebut harus menjawab dengan benar, kemudian giliran dia yang memilih satu teman perempuan untuk menjawab soal berikutnya, begitu seterusnya. Ikuti saja trik itu, diselah-selah siswa kita memilih siapa yang akan melanjutkan mejawab soal, kegembiraan akan datang dengan sendirinya. Hal ini terjadi ketika slah seorang siswa laki-laki atau perempuan menunjuk anak yang memang dijodoh-jodohkan oleh teman sekelasnya. Atau yang ditunjuk adalah tim penggembira kelas mereka.

3. Selingi dengan Musik.

saya gunakan cara ini ketika saya memberi catatan di papan, atau memberi tugas mengerjakan soal. Ketika saya menulis di papan, untuk materi yang agak panjang dan rumit. Sembari menulis saya membolehkan siswa mendengarkan musik. Dengan syarat, tulisan harus lengkap, dan mulut tetap tak bersuara. Ada sebagian kelas yang tidak egois, satu suber musik di suarakan agak keras, supaya teman yang lain bisa mendengarkan. Begitu selesai menulis, tidak ada musik. Giliran saya memberi penjelasan.

Selama mengajar, cara-cara seperti inilah yang saya lakukan untuk mengurangi kejenuhan yang melanda siswa saya. Semoga bermanfaat.

posted under Pendidikan | 13 Comments »

Etika Berpakaian Seorang Guru

February7

Orang jawa menyebutkan bahwa Guru berasal dari kata “digugu lan ditiru”. Artinya bahwa seorang Guru harus bisa dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif. baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya ketika di sekolah. Peraturan sekolah selalu memberikan aturan kepada semua siswanya mulai dari A sampai Z. Termasuk bagaimana bentuk seragam mereka. Rata-rata sekolah mengharuskan seragam siswa tidak neko-neko. Misalnya, celana siswa putra tidak boleh domodel seperti celana pensil, atasan tidak boleh dimodel jangkis, kaos kaki harus putih dan hitam saja, sepatu harus bertali, dan sebagainya. Begitu pula dengan anak perempuan, bawahan panjangnya harus mencapai lima centimeter dibawah lutut, atasan tidak boleh ketat, bagi yang berkerudung tidak diperbolehkan memakai kerudung instan, dan lain-lain.

BAnyaknya peraturan yang menjerat siswa bisa saja menimbulkan protes yang luar biasa, jika ada salah seorang Guru yang berbusana diluar etika. Misalnya, “Bu X pake rok mini,..ketat,..dibelah belakang lagi,…gitu aja dibiarin,…lipstiknya merah banget lagi,..belum lagi sepatunya tuh,..tinggi banget kek tangga,…huh coba kita yang pake rok pendek dikit pasti deh,..lari lapangan,…hormat bendera“. Pernah mendengar celotehan ini / atau bahkan kita yang pernah mengatakan hal yang sama semasa sekolah dulu ?

Segalanya jelas,..karena si murid merasa sekolah tidak adil,…jika mereka dijerat oleh banyak peraturan. Ada baiknya Dewan guru dan karyawan pun dikenakan peraturan yang sama mendidiknya. Intinya seorang guru haruslah berpakaian yang sopan jika ke sekolah. mengenakan pakaian yang sesuai ukuran tubuh (tidak terlalu ketat atau kedodoran) begitu pula dengan model bajunya. Menggunakan tata rias yang jauh lebih natural (Ndak norak,..yang penting kelihatan bersih). Sepatu yang digunakan pun jangan yang berlebihan, hindari hak terlalu tinggi dn motif yang terlalu rame. Perhiasan dan asesoris sewajarnya saja, jangan sampai dapat julukan toko mas berjalan daari murid kita.

Yang terpenting dari semua itu ialah menjaga segala tingkah dan laku. Termasuk perkataan dan pergaulan sesama guru. Karena apa yang dilihat oleh anak didik kita akan selamanya melekat. Julukan Bu Hebring (berlebihan memakai perhiasan), Miss RingRing (Tukang telpon), dan sebagainya ialah berasal dari perilaku dan cara seorang guru mendandani fisiknya. Semoga bisa saling berintropeksi 🙂

posted under Pendidikan | No Comments »