Pendidikan

Guru Ku Tukang Bully..! 

Bismillah,…kira nya semua pengalaman adalah guru terbaik untuk kita semua. 

Sore itu, ketika kami begitu bosan di rumah, dan anak-anak sedang asik sendiri dengan kegiatan nya. Kami meminta ijin untuk pergi berdua saja. Alhamdulillah mereka paham dan mau ditinggal. Kemana..? walah hanya kesana kemari tanpa turun mobil. Sembari bawa krupuk dan es teh dari rumah hehehe. 

Sengaja kami memilih jalanan yang isinya hanya persawahan. Bukan jalan utama. Lebih adem lah ya. Banyak hijau hijauan hehe. Sembari jalan, tetiba suami membuka pembicaraan tentang masa masa SMP nya..SMA nya.Sampai saat kuliah. 

Kalau boleh diberi tema, saat itu temanya “bullying”. 

“Ditiap tempat pasti ada tukang bully ya Bun, pernah ndak di bully..? kabar mereka yang doyan nge-bully gimana ya..? Kalimat tanya itu menjadi pembuka. 

“Ya pernah atuh Yah,  dibully sih bukan jadi tukang bully. Cuma sebab dibully nya yang ndak banget…perkara cemburu, soalnya pacar nya naksir bunda hahahaha.” 

Obrolan semakin serius ketika yang dibahas adalah pengalaman dipermalukan di depan kelas. Dan, pelaku nya adalah guru kita. Tadinya begitu hormat, begitu mengidolakan guru tersebut. Tetapi ketika dipermalukan rasanya pataah hati sepatah patahnya. 

Itu lah, yang menjadi alasan saya pengen banget jadi guru yang terlope-lope. Susah sih, tapi dengan segala usaha InsyaAllah bisa. Ternyata, mempermalukan murid di muka kelas adalah hal yang tak bisa dilupakan. Bahkan ketika murid itu sudah memiliki gelar dan jabatan yang sama. Sama-sama menjadi guru. 

Hai, kawan kawan yang berprofesi guru. Pernah seperti ini kah..? 

1. Ketika Presensi (mengecek kehadiran siswa) terlebih ketika awal masuk ajaran baru. Kita memanggil nama murid kita satu persatu. Dengan gaya yang sok tau, mencoba mengartikan nama murid kita kata per kata dengan menyematkan arti yang konyol. Bahkan bukan arti nama dia sebenarnya. Demi apa..? Demi seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Dan mendapatkan predikat Guru lucu. Padahal, dimata murid kita. Khusus nya yang punya nama. Sikap dan perbuatan kita itu sangat menyebalkan. Bahkan memberi kesan pertama yang super buruk. 

2. Membandingkan kecerdasan murid satu dengan yang lainnya. “Duuh, masak giru aja kamu ga bisa, tuh lihat teman sebangku kamu. Nilai ga pernah jelek. Mbok belajar yang bener, biar kayak teman mu. Ndak malu ta..?. Uluuuuuuuh, Bapak..Ibu..orang tua kami kan emang beda. Kecerdasan berbeda jelas wajarlah. Emang kalau satu kelas kecerdasan, kepintaran dan keahlian harus sama ya..? 

3. Menghina secara fisik hingga memiliki julukan yang memalukan. Ingat kan dalam satu kelas teman kita beragam secara fisik. Ada yang tinggi, kurus, gemuk, berkulit putih, sawo matang dan lain-lain. Jika memang sudah jelas berbeda satu sama lain, mengapa Bapak atau ibu masih menaggil kami dengan julukan tambahan. Misal, menyebut namanya tetapi ditambahin ceking, karena postur tubuh yang tinggi dan kurus. Atau ditambah kata Kriwul gegara rambutnya yang ikal. Padahal mereka yang di panggil dengan nama tambahan yang tidak penting memiliki nama yang cukup baik. Dan tentunya mengandung doa dan harapan bagi orang tua mereka. 

4. Menghukum secara verbal dan fisik di depan teman-teman satu kelas nya. Gegara tidak bisa mengerjakan soal atau beberaoa tes. Dengan leluasa dan tanpa berdosa mengatakan, ” Otak kok ga ada encer-encernya, masak soal seperti ini aja kamu ndak becus.” Bicara seperti itu sembari mendorong kepala dengan telunjuk atau bulpoin. Duh duh duh sediiiiiih. Ditambah lagi ada yang pernah menjewer bahkan menampar muridnya di muka kelas. Hanya karena kesalahan yang sebetulnya masih bisa di komunikasikan dan di cari tahu kebenarannya. Demi Allah, itu luka bukan hanya di tempat yang dipukul atau digampar. Tapi di dalam hati. 

5. Membandingkan seisi kelas dengan kelas yang disemati kata “Unggulan”. Adanya spesifikasi tentu ada tujuannya. Salah satunya supaya metode dan media ajar bisa di sesuaikan dengan kemampuan seisi kelas. JIka memang anak akselerasi yang isi nya anak-anak yang bisa belajar dengan mandiri. Tentunya akan sangat berbeda dengan kondisi kelas yang butuh pembelajaran dengan cara yang unik. So, sudahi ya membandingkan kelas A tidak sepeti kelas B,C,D dan seterusnya. 

6. Mengumbar aib atas nama curhat di ruang guru. Ada yang pernah mendapat tugas masuk ke ruang guru untuk mengambil tas, atau buku guru kita yang tertinggal..? daaaan tetiba kita mendengarkan ada nama teman sekelas atau teman beda kelas kita yang aibnya sedang diumbar oleh seorang guru ke guru yang lain..? Parahnya, semua yang mendengarkan “curhatan” guru tersebut menertawakan bahkan mengumbar aib yang lainnya. Heeeeemmmm apalah daya seorang murid. 

Bukan bermaksud mengorek luka lama. Kiranya hal semacam ini bisa menjadi pelajaran. Bahwa murid kita yang beragam itu memiliki hati dan memori. Jika memang harus menghukum dan menasehati. Lakukan dengan personal tanpa harus menyakiti, meremehkan, hingga mempermalukan.  

Jangan sampai, selama beberapa tahun sekolah. Yang dikenang oleh murid kita adalah “Guru Ku Tukang Bully..!” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *