Tukang Parkir Itu Si Tunagrahita

Akhirnya nulis lagi di blog kesayangan. semenjak ada masalah sama hosting blog saya hilang begitu saja. Tulisan yang ada juga belum bisa kembali. Tidak Ada salahnya mencoba lagi. Nulis, nulis, nulis !!!!

Tulisan saya yang hilang banyak membahas tentang Tunagrahita. Saya kembali membahas Tunagrahita karena pengalaman saya beberapa minggu kemarin.

Dua minggu lalu, saya pulang ke rumah Mama. Kebetulan susu Qays habis. Uang di dompet tinggal Rp.20.000,00 saja. Akhirnya dari stasiun kereta api Mojokerto saya mampir dulu di ATM terdekat yang kebetulan berada di dalam lingkungan hotel. Ketika saya sampai di ATM antrian sudah panjang. Saya deretan terakhir. Selama menunggu saya tertarik pada tukang parkir hotel yang sedang memberi aba-aba pada salah satu supir.

Karena sedikit lupa dan takut salah orang saya memutuskan untuk tidak menyapa. Namun, tiba-tiba saja tukang parkir itu mengucapkan Salam kepada saya. “selamat siang Bu…ini Ari”. Sapa dia agak kurang jelas.

Ari adalah salah satu anak penyandang cacat Tunagrahita dengan cacat ganda Tunarungu. Saya kenal Ari Dari salah satu SLB di Mojokerto. Dua tahun lalu saya mengambil data untuk skripsi Dari SLB tersebut.

Saya berbincang lama dengan Ari. Kebetulan Ari sudah dapat jam istirahat. Saya lebih banyak mendengarkan ceritanya. Ternyata setelah lulus dari SMALB ia memutuskan untuk bekerja.

Dia melamar di banyak tempat dengan profesi yang dia anggap bisa. Tuhan pasti memberikan jalan pada siapa saja yang mau berusaha. Ari pun mendapatkan pekerjaan sebagai tukang parkir.

Ari menutup ceritanya dengan sebuah berita yang jauh membuat saya senang. Dua bulan lagi dia Akan menikah. Pertemuan dengan Ari membuka pemikiran saya. Lagi dan lagi, bahwa serial orang berhak untuk sama. Baik dalam mendapatkan pekerjaan, bahkan asmara.

Tunagrahita Tidak Selalu Idiot

Pendidikan ialah salah satu hal penting bagi manusia. Betuk pendidikan bisa secara akademik atau non akademik. Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia tercinta ini. Mulai dari Program Wajar (wajib belajar) Sembilan Tahun sampai Wajar Dua Belas Tahun. Pembagian beasiswa dalam dan luar negeri pun termasuk dalam salah satu program pemerintah.

Adanya UU tentang pendidikan memberikan garis tebal bahwa pendidikan harus dilaksanakan secara merata dan tanpa pengecualian. Sekolah negeri, sekolah swasta, bahkan sekolah luar biasa (SLB) menjadi tempat formal untuk mendapatkan pendidikan.Berbicara tentang SLB, tidak akan lepas dari keberadaan anak luar biasa (ABK). ABK ialah anak yang memiliki grafik perkembangan yang berbeda dari anak normal. Grafik tersebut bisa naik dan turun. Ada beberapa kategori ABK diantaranya Tunagrahita, Tunawicara, Tunarungu, Tunalaras, Tunanetra, Tunadaksa, Anak berkesulitan belajar, dan anak yang terlampau pintar.

Sementara ini yang akan saya bahas ialah tentang anak tunagrahita. Banyak yang berasumsi bahwa anak tunagrahita sama dengan anak idiot. Asumsi tersebut kurang tepat karena sesungguhnya anak tunagrahita terdiri atas beberapa klasifikasi. Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk anak yang memiliki perkembangan intelejensi yang terlambat. Setiap klasifikasi selalu diukur dengan tingkat IQ mereka, yang terbagi menjadi tiga kelas yakni tunagrahita ringan, tunagrahita sedang dan tunagrahita berat.

1. Tunagrahita Ringan

Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.

2. Tunagrahita Sedang

Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.

3. Tunagrahita Berat

Anak tunagrahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.

Melalui sedikit penjelasan tentang anak tunagrahita, semoga pembaca yang masih menganggap semua anak tunagrahita itu anak idiot dan tidak memiliki kemampuan apa-apa tidak lagi berpikiran semacam itu. Setelah mengetahui hal ini pula kiranya dapat disosialisasikan kepada siapa saja yang masih belum tahu.

Anak luar biasa hanya sdikit berbeda dari anak normal. Namun sesungguhnya dibalik “keluarbiasaannya” mereka benar-benar luar biasa. Kepercayaan ialah hal yang sangat dibutuhkan dan menjadi bagian yang sangat berharga. Jangan pernah memandang sebelah mata akan apa yang hanya terlihat dari luarnya saja :)