

Jul
1
Pernah merasa pengorbanan kita sia-sia? Padahal yang kita korbankan segenap jiwa dan raga, tenaga dan biaya. Demi mendapatkan sesuatu yanng kelak membuat kita menjadi orang yang lebih mulia. Kalau kalian jadi Boim respon apa yang akan timbul? Ceritanya seperti ini!
Boim adalah Mahasiswa jurusan X di Universitas XXL. Setiap hari dia harus naik ojek dari gang rumahnya ke jalan raya, dengan ongkos Rp.1500,00 sekali jalan. Kemudian, Boim harus naik bus kota untuk sampai diterminal AIUEO dengan ongkos Rp.3000,00. Selanjutnya, Baim harus naik Angkot XYZ dengan ongkos yang sama ketika naik bus kota yakni Rp.3000,00 barulah Boim bisa sampai di kapus XXL tercinta.
Turun dari angkot, Boim harus jalan kaki kurang lebih 10 menit untuk sampai di jurusannya, kalau udah sarapan jalannya bisa rada cepet 5 menit hehehehe perjuangan Baim belum berakhir lo… sesampai di Jurusan Boim harus menaiki kurang lebih 100 anak tangga untuk bisa berkuliah di salah satu ruangan jurusan.
Saudara-saudara, tahukah Anda apa yang terjadi? Pengorbanan dan jerih payah si Boim untuk mengemban tugas mulia gagal total. Padahal pagi itu semangat menuntut ilmu lebih dari 45!. Begitu sampai di kelas ternyata ada pemberitahuan bahwa Dosen mata kuliah hari itu tidak bisa mengajar. Alasannya apa belum jelas, yang jelas hari itu tidak ada kuliah. Mungkin hal semacam ini pengalaman yang sering terjadi selama proses studi berlangsung. Ciri-ciri Cerita Pendek (Cerpen)
Pendidikan ialah salah satu hal penting bagi manusia. Betuk pendidikan bisa secara akademik atau non akademik. Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia tercinta ini. Mulai dari Program Wajar (wajib belajar) Sembilan Tahun sampai Wajar Dua Belas Tahun. Pembagian beasiswa dalam dan luar negeri pun termasuk dalam salah satu program pemerintah.
Adanya UU tentang pendidikan memberikan garis tebal bahwa pendidikan harus dilaksanakan secara merata dan tanpa pengecualian. Sekolah negeri, sekolah swasta, bahkan sekolah luar biasa (SLB) menjadi tempat formal untuk mendapatkan pendidikan.Berbicara tentang SLB, tidak akan lepas dari keberadaan anak luar biasa (ABK). ABK ialah anak yang memiliki grafik perkembangan yang berbeda dari anak normal. Grafik tersebut bisa naik dan turun. Ada beberapa kategori ABK diantaranya Tunagrahita, Tunawicara, Tunarungu, Tunalaras, Tunanetra, Tunadaksa, Anak berkesulitan belajar, dan anak yang terlampau pintar.
Sementara ini yang akan saya bahas ialah tentang anak tunagrahita. Banyak yang berasumsi bahwa anak tunagrahita sama dengan anak idiot. Asumsi tersebut kurang tepat karena sesungguhnya anak tunagrahita terdiri atas beberapa klasifikasi. Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk anak yang memiliki perkembangan intelejensi yang terlambat. Setiap klasifikasi selalu diukur dengan tingkat IQ mereka, yang terbagi menjadi tiga kelas yakni tunagrahita ringan, tunagrahita sedang dan tunagrahita berat.
1. Tunagrahita Ringan
Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
2. Tunagrahita Sedang
Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.
3. Tunagrahita Berat
Anak tunagrahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.
Melalui sedikit penjelasan tentang anak tunagrahita, semoga pembaca yang masih menganggap semua anak tunagrahita itu anak idiot dan tidak memiliki kemampuan apa-apa tidak lagi berpikiran semacam itu. Setelah mengetahui hal ini pula kiranya dapat disosialisasikan kepada siapa saja yang masih belum tahu.
Anak luar biasa hanya sdikit berbeda dari anak normal. Namun sesungguhnya dibalik “keluarbiasaannya” mereka benar-benar luar biasa. Kepercayaan ialah hal yang sangat dibutuhkan dan menjadi bagian yang sangat berharga. Jangan pernah memandang sebelah mata akan apa yang hanya terlihat dari luarnya saja

