

Kejenuhan adalah rasa yang sering timbul selain rasa malas. Baik itu pada asiswa maupun pada Guru. Namun, lebih sering melanda siswa di sekolah. Apalagi, jam pelajaran eksak yang diletakkan di akhir pelajaran. Lapar, kantuk, dan lemahnya konsentrasi. Hal ini biasa terjadi, terutama pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem fullday dan bimbingan belajar. Kelas 9 dan XII misalnya, hampir setiap hari ketika dekat bulan ujian, mau tak mau mereka harus puas dengan seabrek soal untuk latihan.
Kebetulan saya memberikan bimbel untuk kelas 9 dan kelas XII. Nasib Guru bimbel, selalu disisakan semangat yang hanya tinggal 20%, bahkan tak jarang ditinggal tidur. Hal ini saya maklumi karena tenaga dan pikiran siswa saya sudah habis digunakan untuk menerima seabrek pelajaran. Melihat keadaan ini saya banyak bertanya kepada siswa, cara belajar apa yang diinginkan, supaya bimbingan belajar menjadi hal yang menyenangkan.
1. Belajar di Luar Kelas.
Cara belajar seperti ini paling banyak disarankan oleh siswa. Sembari merasakan udara luar, siswa saya ternyata lebih bisa berkonsentrasi dan menerima penjelasan dengan lebih santai dan segar. Untuk cara ini, sebaiknya digunakan ketika pembahasan soal, karena tidak begitu membutuhkan papan tulis untuk menerangkan materi. Selain di halaman sekolah, Mushola dan perpustakaan bisa menjadi alternatif yang cukup menarik.
2. Menggunakan Sedikit Trik.
Saya mendapatkan trik ini ketika kuliah. Ketika saya coba ternyata trik ini cukup membangkitkan semangat siswa ketika membahas soal. Tidak terlalu sulit. Soal pertama saya yang membaca, kemudian soal ke 2 saya menunjuk salah satu siswa laki-laki. Siswa tersebut harus menjawab dengan benar, kemudian giliran dia yang memilih satu teman perempuan untuk menjawab soal berikutnya, begitu seterusnya. Ikuti saja trik itu, diselah-selah siswa kita memilih siapa yang akan melanjutkan mejawab soal, kegembiraan akan datang dengan sendirinya. Hal ini terjadi ketika slah seorang siswa laki-laki atau perempuan menunjuk anak yang memang dijodoh-jodohkan oleh teman sekelasnya. Atau yang ditunjuk adalah tim penggembira kelas mereka.
3. Selingi dengan Musik.
saya gunakan cara ini ketika saya memberi catatan di papan, atau memberi tugas mengerjakan soal. Ketika saya menulis di papan, untuk materi yang agak panjang dan rumit. Sembari menulis saya membolehkan siswa mendengarkan musik. Dengan syarat, tulisan harus lengkap, dan mulut tetap tak bersuara. Ada sebagian kelas yang tidak egois, satu suber musik di suarakan agak keras, supaya teman yang lain bisa mendengarkan. Begitu selesai menulis, tidak ada musik. Giliran saya memberi penjelasan.
Selama mengajar, cara-cara seperti inilah yang saya lakukan untuk mengurangi kejenuhan yang melanda siswa saya. Semoga bermanfaat.
Jangan berpikiran aneh dulu ya,…!!! Judul tidak selalu mencerminkan isi tulisan lo hehehe.
Supaya tahu,…baca lengkap tulisan ini ya. Syarat pertamanya jauhin piktor (pikiran kotor) kalian sepakat?
Kalau berbicara tentang gaya berhubungan, banyak yang berasumsi pada hubungan **** (termasuk Anda kan?). sebenarnya bergantung topik yang dibahas. Gaya berhubungan Guru dengan siswa maksudnya apa ya?
Maksud saya, gaya berhubungan disini bukan berhubungan **** tetapi cara guru berkomunikasi dan menjalin kerja sama dengan siswanya. Sebagai anak didik, tentunya Anda pernah merasakan bagaimana jadi anak emas Bapak/Ibu Guru kan? Atau merasakan bagaimana jadi bahan omelan? Semua itu pengalaman yang menarik dan banyak pelajaran yang dapat diambil dari sikap Bapak/Ibu Guru tersebut.
Tahukah Anda, bahwa sikap yang seperi itu ialah cara mereka menjalin sebuah gaya berhubunga dengan siswanya. Siswa yang menjadi anak emas pasti akan merasakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan dan membanggakan. Begitu pula sebaliknya.
Hubungan baik atau buruk antara siswa dan Guru akan menciptakan sebuah pengalaman yang selamanya menjadi kenangan dan cerita yang tak lekang dimakan zaman.
Gaya berhubungan siswa dengan Guru bentuknya bermacam-macam. Masih ingat tulisan yang berjudul “Kriteria Guru Nyebelin di Mata Siswa”. Beberapa kriteria yang disebutkan dalam tulisan itu ialah buah dari gaya berhubungan Guru dan siswa yang kurang baik dan menyenangkan.
Lalu, bagaimana dengan gaya berhubungan Guru dengan siswa yang menyenangkan. Lihat beberapa contoh berikut ini.
1. Guru yang tidak pernah membeda-bedakan siswa mana yang lebih unggul dan tidak akan memberikan kesan kepada siswa bahwa Guru tersebut berlaku adil. Ini salah satu gaya berhubungan Guru dengan siswanya supaya siswanya ketika belajar tidak merasa dikotak-kotakkan. Dengan begitu guru dengan gaya berhubungan semacam ini akan menjadi pengajar yang banyak mendapatkan perhatian dari siswa.
2. Guru yang suka memberikan penghargaan setiap kali siswanya melakukan suatu hal yang baik dan menghasilkan prdikat memuaskan. Misalnya Guru yang memberikan permen atau minuman secara cuma-cuma kepada siswanya ketika semua siswa di kelas yang dia ajar tidak ada yang remidi. Gaya berhubungan semacan ini menjadikan Guru dan siswa saling menghargai. Guru menghargai jerih payah siswanya dengan memberikan hadiah karena hasil belajar yang memuaskan. Begitu pula sebaliknya siswa akan belajar giat setiap kali ada tes dengan pertimbangan hadiah kecil namun berarti dari Guru mereka menjadi penghargaan yanng luar biasa.
3. Guru yang selalu menemani siswanya ketika ada pertandingan. Biasanya hal semacam ini dilakukan oleh wali kelas. Gaya berhubungan Guru dengan siswa yang satu ini dapat mempengaruhi siswa secara mental. Karena siswa yang berkompetisi merasa mendapatkan dukungan yang lebih. Sekalipun siswanya kalah dalam kompetisi tersebut, rasa kecewa yang dibawa tidak begitu membebani.
4. Guru yang selalu memasukkan permainan disela-sela mengajar. Gaya berhubungan semacam ini akan membantu siswa mengatasi kejenuhan selama kegiatan belajar mengajar. Dengan begitu Guru akan lebih dapat mengontrol siswa, begitu pula dengan siswa, ketika mengetahui Guru yang berada dihadapan mereka sik dan menyenangkan mereka tidak akan sungkan untuk mengutarakan keinginan mereka ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Semua yang tersebut di atas merupakan gaya berhunbungan Guru dengan Siswa. Semua gaya tersebut belum punya nama yang mearik memang. Namun, tujuannya menciptakan situasi dan kondisi yang baik selama pembelajaran berlangsung. Sementara yang bisa dicantumkan adalah gaya nomor 1 sampai nomor 4, kalau ada yang mau nambahin ya tidak masalah, komentar saja hehehe…

