Beberapa waktu lalu, media sosial marak dengan pemberitaan tentang seorang anak yang masuk RSJ karena terlalu banyak mengikuti les. Membaca kisahnya membuat setiap orang prihatin, marah, bahkan meneteskan air mata. Sempat bertanya, “targetnya apa sih, kok sampai kebablasan ?”.
Seorang teman bertanya, “Lala, anaknya kan sekolah di TK fullday, gak takut stres tuh. udah ada contohnya. Hati-hati lo!”. Weleh-weleh maksudnya awas masuk RSJ begitu ???? Dulu jaman pelecehan seksual di JIS juga ngomongin hal yang dihubung-hunbungkan, “Anak mu kan sekolahnya di internasional school, ga takut tuh???”. Waaah sepertinya anak ente yang kudu masuk sekolah fullday. Biar ndak asal ngomong hehe.
Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya berprestasi ketika sekolah. Berharap anak-anaknya sukses di masa depan, baik dunia dan akhirat. Tidak ada yang salah dengan membekali anak-anak dengan ilmu. Bahkan menjadi keharusan. Pada kenyataannya, yang berlebihan pasti tidak baik. Bisa jadi berantakan, tidak dapat apapun.
Sempat dianggap orang tua yang “mentala” karena menyekolahkan kakak di sekolah fullday. Tak beda jauh dengan “menitipkan anak” dan macam-macam istilah lainnya. Meskipun jenjangnya masih TK, jam sekolahnya sama dengan jenjang SMA. Berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 2 siang. Tak kenal maka tak sayang, karena itu banyak yang berkomentar negatif.
Awalnya, ada ketakutan kakak akan merasa bosan dan stres. Namun, setelah dibuktikan, semua ketakutan itu hilang. Sempat mogok sekolah memang, selama seminggu. Karena harus pindah ke gedung SD, kebetulan gedung TK sedang direnovasi. Selama kakak mogok sekolah dapat satu hikmah, bisa tahu semua kegiatan kakak dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Kegiatan Belajar mengajarnya sangat menyenangkan, dan porsi bermain lebih banyak.
Setiap pulang sekolah, ketika ditanya bagaimana di sekolah, apa yang diajarkan abi dan umi, dll kakak selalu menjawab,”tidak tahu, atau hanya menaikturunkan bahu”. Dari sini ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh ayah dan bunda ketika mamasukkan kakak di sekolah fullday.
1. Mengubah pertanyaan seputar sekolah. Ketika kakak baru pulang sekolah, jangan langsung ditanya, “gimana sekolahnya tadi kak ?” atau “kakak ngapain aja tadi di sekolah?”. Mungkin kakak masih capek dan bosan dengan rutinitas di sekolah. “Assalamualaikum kak, bunda masak makanan kesukaan kakak lo, cepat pulang yuk!”. “Assalamualaikum, kak, di rumah ada om Falih, om bawa oleh-oleh lo!”. Ketika kakak sudah merasa nyaman dengan makanan atau oleh-oleh dari om nya. Dengan sendirinya akan menceritakan kegiatannya di sekolah.
2. Mengerjakan PR di pagi hari. PR pasti diberikan kepada kakak sebagai bahan evaluasi dan menjaga kekompakan antara ayah, bunda, dan kakak dalam memecahkan sebuah masalah. Tiap anak pasti berbeda, ada yang begitu sampai di rumah langsung mengerjakan. Ada juga yang tidak mau mengerjakan sama sekali. Sejauh ini mengerjakan PR di pagi hari, setelah mandi pagi, lebih efektif. Dibandingkan setelah pulang sekolah atau malam harinya. Tentunya kakak dibangunkan lebih awal, sembari melatih kakak sholat subuh.
3. Tidak memberi les tambahan. Karena kakak sudah cukup lama di sekolah. Memberikan les tambahan belum dirasa penting. Mengingat usianya yag masih kanak-kanak, memberikan waktu lebih banyak untuk bermain tentu sangat disarankan. Sesekali, ayah dan bunda mengajak melakukan permainan edukatif. Misalnya, “jari-jari ABC”, tahu kan cara mainnya ? semua jari dihitung,..A…B…C…D….E…berakhir di huruf…..K….!!!! nama hewan,…Ayah, bunda dan kakak bergantian menyebutkan nama hewan yang berawalan huruf K. kodok,…kadal,…keledai…..hihihi.
4. Memberi motivasi melalui dongeng sebelum tidur kepada kakak agar selalu semangat. Kakak tidak akan menerima jika nasihat atau motivasi diberikan dengan gayanya pak Mario Teguh. Karena kakak masih kanak-kanan, dongeng lebih mudah masuk. Akan lebih baik jika bunda dan ayah yang menciptakan dongengnya, sesuai usia dan kebutuhan kakak. Misalnya, kakak sedang malas sekolah. Ayah dan bunda bisa membuat cerita yang berisi mengapa harus sekolah, manfaatnya apa, dll.
Bekerjasama dengan pihak sekolah sangat penting dilakukan. Bagaimana proses KBM nya, Bagaimana kakak menerima materi di sekolah, bagaimana sikap kakak di sekolah, dan lain-lain. Semua bisa terjawab jika kominikasi terjalin dengan baik.
Bagi yang tinggal di lingkungan yang kurang kondusif (dalam pergaulan) sekolah fullday sangat disarankan 🙂 !!!!.