Pak,..masih jelas dalam ingatan, 14 tahun lalu. Gayamu yang nyentrik, wajahmu yang tegas tanpa senyuman. Kepalan tangan kanan dan tangan kiri yang berkacak pinggang. Seolah tak berikan toleransi untuk kami yang berlawanan jenis untuk berdekatan. Betapa engkau ditakuti, bahkan teman laki-laki yang memberi tumpangan hanya mampu sebatas perempatan , jarak yang masih jauh dari gerbang sekolah. Mengapa ? karena kami takut kepadamu pak. Takut pada hukumanmu.
Ya,..kami awalnya takut kepada mu, bukan kepada Allah. Namun, didikan mu itu membuat kami paham bahwa terlalu sering berdekatan dengan lawan jenis. Bukan mahramnya adalah salah dan dosa. Namun,… ada kekecewaan, sangaaaat dalam, ketika melihat akun Facebook Bapak dengan komentar “WOOOW” pada postingan foto sexy salah satu murid bapak, teman lama kami.
Ibu,..masih ingat dalam ingatan, ketika engkau Memotong rambut kami yang lebih panjang dari kerudung kami. Masih ingat ketika kerudung kami yang terawang kau beri julukan “saringan tahu”. Dan tak akan pernah kami lupakan ketika engkau merobek rok sekolah kami yang panjangnya diatas lutut. Dari tindakanmu kami tahu, bahwa berbusana haruslah yang santun. Demi kehormatan diri sendiri.
Tapi kenapa bu? di pasar itu, Ibu tak kenakan jilbab yang biasa ibu pakai mengajar. Ibu tak kenakan baju muslimah Ibu. Kenapa hanya daster berlengan pendek dengan panjang selutut Bu ? Dan rambut yang diikat ala kadarnya.
Bapak,…
Ketika engkau mengajarkan kami tentang batalnya wudhu karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahram. Akun Facebook mu penuh foto dengan pose yang bersentuhan. Meskipun yang menggandeng mu di foto adalah muridmu. Tetap saja mereka bukan mahram mu pak.
Ibu,…
engkau yang sering mengatakan, “jangan pacaran”. Perempuan hanya dirugikan dari status salah kaprah ini. Ya,…kami menuruti semua nasihat mu. Meskipun kami menggerutu, Merasa bahwa ibu tak paham dunia remaja. Tapi mengapa bu ? Di pameran itu, ibu bergandengan tangan dengan lelaki yang kami tahu bukan kakak, adik, apalagi ayah mu. Dan kami tahu engkau belum menikah Bu.
Bapak dan Ibu Guru kami tercinta….
Betapa kami menghormati segala apa yang menjadi aturan dan keputusan mu.
Kami marah dan selalu membangkang ketika engkau melarang ini itu, yang tak baik untuk kami. Kami sadar ini cara mu mendidik kami. Cara yang bisa kami wariskan kepada anak-anak kami.
Tentu tak akan ada artinya kami tanpa ilmu yang kau berikan. Tapi kenapa ? mata ini harus melihat banyak hal yang mengecewakan. Guru juga manusia,..memang benar. Tapi guru adalah manusia yang selalu pantas untuk digugu lan ditiru segala perangai baiknya.
Bapak dan Ibu Guru kami Tercinta,…
Mohon maaf kan kami, jika kami kecewa akan apa yang kami lihat.
Yang terlihat adalah pelajaran bagi kami, bahwa kami adalah guru bagi anak-anak kami. Dan kami harus menyamakan apa yang kami nasihatkan kepada mereka dengan segala tindakan kami.
Bapak,..Ibu,..kami Rindu Engkau yang Dulu 🙂