Bismillah…!
Alhamdulillah, masih dengan keberkahan dari Allah. Masih di tempat yang sama dengan alat tempur yang sama. Nulis lagi aja daripada nunggu Pak suami ndak ngapa-ngapain. Masih ada waktu 2 jam an.
Entah akan jadi berapa part tulisan saya ini. Semoga emak-emak kece ndak bosan ya bacanya. Jangan serius-serius Mak. Disambi makan batagor kayak yang nulis juga boleh hehehe..!. Setelah cerita tentang mbak siti yang membuat saya super duper merasa bersalah. Kali ini masih seputar kegalauan saya. Tentang sesuatu yang paling saya senangi tapi harus ditinggalkan. Huuuh beratnya seperti dilarang makan coklat lagi setelah ketauan ada infeksi lambung yang parah Mak….! Hiks.
Ceritanya gini mak,..dari usia TK saya ini doyan banget bercermin dan ngomong sendiri sama bayangan di cermin. Apa maaak,..? gila…??? hus sembarangan. Sehat walafiat kok mak. Saya begitu klau lagi kesepian. Pas ditinggal mama kerja. Dan merasa ndak nyambung sama orang disekitar. Apa yang saya lakukan di depan cermin..? Bermain peran…! awalnya ndak nggeh sih kalau itu semacam akting. Beranjak SD semakin sering tuh berteman sama cermin. Bukan hanya berakting, menghafal materi sekolah juga lebih sering di depan cermin. Percaya atau ndak, buat saya itu membantu banget dalam menghafal. Alhasil nilai ujian nya lumayan hehehe.
Ketika SMP apa yang saya omongkan di cermin perlahan mulai saya tulis. Dan ndak sadar, mengalir gitu aja. Jadilah beberapa naskah cerita. Kadang cerpen. Ketika SMA semakin berkembang lagi. Semacam menulis buku harian, dan itu menjadi kebiasaan. Si cermin yang tadinya jadi teman setia, semenjak SMA digeser oleh buku harian. Buku harian saya sih waktu itu ndak seperti punya teman-teman kebanyakan. Yang dipakein gembok, kalau kuncinya ilang, ujung-ujungnya di sobek juga tuh hardcover nya hahahaha.
Saya lebih suka pakai kertas warna warni. Bikinnya dari kertas origami yang di jilid di abang potokopi. Lebih bersemangat aja kalau nulis nya warna warni gitu.
Dari kebiasaan ngomong sendiri dikaca itu Mak. Saya semakin jatuh cinta sama dunia peraktingan. Mimpi jadi artis TV juga pernah. Tapi yang kesampean jadi artis panggung hehehe. Nah disini nih Mak. Galau nya melanda. Waktu SMA sih ndak ada ekskul terater atau sejenisnya. Gabung di kegiatan ini waktu jadi mahasiswa. Begitu tau ada, walaaah senang nya luar biasa. Selain memang suka sama peraktingan, panggung, makeup artis, kostum, naskah dan kawan kawan nya. Teater jelas nyambung sama jurusan yang saya pilih.
Unit kegiatan Mahasiswa itu punya nama Teater Institut (Te-i). Semester pertama sudah memutuskan gabung, sampai semester 6 kalau ndak salah. Punten lupa mak. Awal bergabung tidak ada konflik yang serius sih Mak. Malah kebalikannya Te-i ini sudah seperti rumah sendiri. Tak jarang kalau ada pementasan tidurnya juga disitu.
Maaak, asli..kalau punya anak perempuan dan sedang kuliah. diwanti wanti ya suruh pilih UKM yang bener. UKM yang sesuai syariat aja lah Mak. Bukan berarti Te-i ndak bener lo. Bagi mereka yang tidak mempermasalahkan berbaurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram mungkin tidak masalah. Tapi sebaiknya pergaulan yang demikian tidak usah dijamah.
Saya muslimah, berkerudung. Tapi masih saja bergaul bebas dengan yang bukan mahram. Semoga Allah mengampuni segala dosa saya kala itu. Jadi gini Mak. Ketika mendapatkan sebuah naskah. ndak akan bisa mengelak, bahwa yang memainkannya adalah laki-laki dan perempuan. Belum lagi kalau naskahnya memaksa kita menjadi pasangan. Gerak laku pun akan diatur oleh sutradara supaya meyakinkan bahwa kami adalah pasangan. belum lagi kalau sedang makeup. Haduuuuh ga ada tuh ruang privat Mak. Wes mbuh lah Mak, merasa surem banget kalau inget semua itu. hiks hiks
Bersentuhan…? Ya jelas atuh Mak. Ketika latihan, proses medapatkan sebuah adegan yang keren pasti melawati proses a-z. Saya pernah dapat adegan harus berdansa dengan sang raja. Seperti apa gerakannya, ndak usah di tulis ya mak, bayangin aja. Peran saya istrinya Raja. Berdansa sama Raja. Tepok jidat banget banget banget banget pokoknya Mak.
Waktu itu, saya masih nyepelein pergaulan yang begitu rupanya Mak. Menikmati suasana nya, bahkan ketika sebagian besar teman berpesta minuman keras saya membiarkan. Hanya melihat, dan tanpa sadar saya termasuk dalam golongan mereka walaupun tidak ikut pestanya. Pikiran saya nih Mak, “Ah..yang mabok mabokan kan mereka. Saya kan ndak ikutan”. Ya Allah…betapa bodohnya saya.
Semakin lama gabung dengan UKM ini semakin banyak naskah yang saya mainkan. Gol terbesar adalah lolos seleksi disalah satu ajang bergengsi. Bangga ga sih, jelas bangga Mak. Banyak aktor, aktris, penulis naskah, sutradara, dan orang-orang ternama di ajang itu.Bahkan jenjang karier yang bisa menghasilkan banyak uang sudah di depan mata. Dan saya harus rela menggadaikan sesuatu yang berharga, hanya demi ajang itu.
Saya mendapat satu peran, dimana bentuk kostumnya hanya membalut tubuh saya. Dengan warna senada kulit, dan sangat ketat. Dan tidak boleh menggunakan hijab. Kepala saya hanya di bungkus kain. Salah seorang teman yang lihat saya pentas. Berakata, “Sumpah tadi keren banget, tapi tadi kamu ndak telanjang kan ya..?” Ya Allah tamparan keras banget. Malu dan pengen cepet pulang, terus nangis sejadi jadinya. Entahlah, mata saya tertutup oleh popularitas yang semu. Atas nama totalitas, saya membiarkan ratusan bola mata melihat apa yang seharusnya tidak di pertontonkan.
Setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan UKM itu. Tak perduli seberapa banyak kesempatan yang saya buang dalam dunia akting. Karena hati dan pikiran sudah bertentangan. Semenjak itu saya tidak pernah main lagi ke Te-i. Semoga Te-i yang sekarang lebih baik dibanding yang dulu. UKM nya tidak salah mak, yang salah ada lah para pelakunya. Menciptakan lingkungan yang “sehat” insyaalah bisa kok. Bikin komunitas teater syariah juga bisa 🙂