Astagfirullah, kadang kasian sama orang-orang yang mengolok-olok muslimah yang memakai baju dan kerudung syar’i. Pengalaman semacam ini pernah saya alami ketika baru belajar menggunakan hijab syar’i. Sakit hati..? iya atuh, da manusiawi. Marah, pengen ngelempar itu orang pakai sendal atau batu. Tapi ternyata, mereka yang berperilaku semacam itu kasihan. Bagaimana tidak, realitanya, membedakan antara korden dan kerudung saja mereka belum bisa.
Adek ke dua saya sempat curhat perihal dia dikatain semacam ini. Bahkan yang lebih nyesek tuh dikatain, “Awas kerudung nya kena tai ayam lo kalau panjang gitu.” Huaaaaa segitunya sih. Jelas Tante nya anak-anak super baper.
Ini mah yang kita pengen ya Mak. Setidaknya, kalau belum bisa melakukan dan mendukung, jangan mengejek. Tapi ya sudahlah, kesadaran dan hidayah orang di tangan Allah dan pribadi masing-masing. Maklumi dan doakan saja. Masa depan tidak ada yang tau to. Hehehehe.
Andai lelaki yang mengolok-olok tadi paham, tentu saja tidak akan berkata demikian. Justru sebaliknya, ia akan sangat bersyukur, karena banyak muslimah yang membantunya menjaga pandangan matanya. Terlebih jika yang seperti itu ialah anggota keluarganya.
Ia akan terhindar dari tuntutan di akhirat kelak tentang kewajibannya menjaga dan medidik “Perempuannya” tentang aurat. Karena sesungguhnya, terjaganya aurat seorang perempuan ialah tanggungjawab ayahnya, saudara laki-lakinya, suaminya, dan anak laki-lakinya kelak.
Teruntuk kalian yang mengalami hal serupa, terutama adekku sayang, tetap semangat ya, maafkan. Meski rasanya tidak adil.Sayang waktu dan usaha kita selama ini untuk berunah menjadi lebih baik. Jika harus meladeni hal semacam itu. Semoga Allah selalu memudahkan dan meridhoi setiap langkah kalian. Aamiin.