Nak,Khitan Yuk..!

    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

    Assalamualikum, ^_^

    Adakah yang punya banyak anak lelaki seperti saya ? Yap..tiga anak lelali itu banyak lo buat saya hehehe. Sudah pada di khitan kah ? Atau masih drama dengan rasa takut dan cemasnya si kakak ? Atau, justru bundanya, neneknya, budhenya, atau siapapun yang terlalu sayang sama anak lelaki kita. Dan belum menemui kata sepakat untuk di khitan. Alasannya, “Jangan, masih terlalu kecil anaknya, padahal sudah mau SMP.”  Hehehehehe

    Tenang, saya pun pernah mengalami hal semacam ini. Saya ini orang Jawa Barat. Suami Jawa Timur. Jelas dong beda budaya dan bahasa. Walau bedanya hanya di kata barat dan timur. Termasuk kebiasaan mengkhitankan anak. Budaya keluarga suami. Bahwa khitanin anak itu harus pas usianya menurut mereka. Tidak boleh terlalu kecil dan jangan terlalu besar. Yang pas adalah usia masuk SMP atau sedang di usia SMP. Alasannya, biar anaknya bisa nahan sakit. Biar anaknya paham sunat itu gimana. Biar anaknya paham duit dulu. Karena sudah jadi budaya kalau anak di khitan, keluarga besar pasti akan kasih hadiah duit. Kasian kalau belum ngerti diut. Ujung-ujungnya yang make emak bapaknya ntar. Hahaha kenapa jadi buruk sangkanya ke emak bapaknya ya ?

    Sedangkan keluarga saya. Anak tidak butuh banyak alasan untuk di khitan. Yang penting tas tes, kelar, sehat lagi, udah sah sholatnya. Hehehehe.

    Dua anak saya sudah di khitan. Masing-masing beda di usia saja khitannya. yang paling bontot belum dikhitan karena masih bayi. Dan proses lahirannya secara caesar. Jadi saya masih belum bisa fokus ke dua luka.

    Anak pertama, terpaksa banget harus di khitan di usia 3 tahun. Karena kakak mengalami Femosis. Apa itu femosis, di googling aja ya Maaak ^_^. Ketika kami periksakan ke dokter, tanpabasa basi dokter menyarankan untuk segera di khitan. demi kebaikan kakak. Waktu itu, no drama, no kontra dari pihak keluarga. Secara jelasga akan tega lihat kakak setiapkali pipis harus nangis kesakitan.

    Namun, dari segi kesiapan kami memberikan edukasi ke kakak yang terbilang belum siap. Terlebih dengan kondisi kakak yang sedang sakit. Kalau mau dibujuk sakitnya hanya sebentar, jelas kami bohong. بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , demi kebaikan kakak. Tanpa lama-lama lagi kami siapkan proses khitan kakak. Yang sebetulnya lebih ke operasi kecil nya kakak. Supaya pas pipis ndak sakit dan lancar.

    Ketika proses nya berlangsung. Sedikit tegang. Karena kakak kurang kondusif. dan merasa dia sedang tersakiti. walau saat itu kakak kami berikan pengalih perhatian kesukaannya.Yakni game di hp. Ketika obat bius habis ini yang paling wow. Jangan sampai bilang ke anak, “ga sakit kok nak,atau sakitnya dikit aja kekdigigit semut.” Pada kenyataannya sakitnya luar biasa.

    Anak kedua, yang kami panggil Abang. Persiapan dan proses khitannya Alhamdulillah lebih mudah dibanding ketika kakaknya khitan. Abang khitan ketika awal-awal covid-19 menyerang negeri ini. Jadi acara syukuran benar-benar sederhana. Abang sudah lebih dulu mendengar cerita seputar khitan dari kakaknya.

    Banyak dikasih sugesti positif, kalau khitan itu emang sakit. Tapi ada Bunda yang bisa kasih obat. Dan bakal dapat uang atau mainan dari saudara-saudara. Secara mental Abang lebih siap. Abang dikhitan usia 8 tahun.

    Abang kami khitankan di cahaya khitan Mojokerto. Dokter nya ramah, dan yang unik. Ketika proses khitan. Abang sudah disuguhi X-Box. Jelas atuh asik banget. Paling abang ngerengek waktu jarum bius di suntikkan. Disana ada beberapa jenis paket untuk khitan. Bahkan orang tua bisa nambah uang untuk mendapatkan mainan yang diinginkan anak sebagai hadiah selepas khitan.

    So, apa sih yang harus kita siapin bener-bener ketika anak mau di khitan..?

    1. Kekuatan Mental. Hal ini menjadi pondasi penting untuk anak bisa menata kekuatannya. Bahwa akan ada rasa sakit yang dialami dan tidak bisa dihindari. Memberikan edukasi yang baik kepada anak. Jangan mengarang-ngarang cerita seputar khitan yang terlalu. menyakitkan.
    2. Kapan pun anak siap, laksanakan. Pikirkan biaya pokoknya saja. Dokter dan perawatan anak pasca khitan. Biaya hajatan,syukuran dan lainnya bisa kita kesimpangkan dulu.
    3. Ketika anak siap dan mau untuk dikhitan. Berikan hadiah untuk keberaniannya. Namun, pastikan hadiah yang diminta anak masih dalam batas rasional dan bermanfaat untuk mereka.
    4. Sampaikan hal jujur kepada anak seputar khitan. Jangan jadikan khitan sebagai alat untuk menakut-nakuti apalagi mengancam anak-anak supaya nurut ke kita. Misal, ketika anak trantrum dan nangis sejadi-jadinya. kemudian kita sebagai orang tua berkata, “diem ndak ? kalau ndak diem nanti di sunat lo…!”. BIG NO ya Maaaak.
    5. Pastikan anakpaham, kenapa lelaki harusdikhitan, baik secara syariat dan medis.

    Semoga membantu ya Mak, pengalaman saya khitanin dua jagoanyang super sholih ini hehehe. Next, IsyaAllah dedeknya. Semoga Allah mudahkan ya :*

     

    Berlangganan ke Blog via Email

    Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabung dengan 150 pelanggan lain

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Eksplorasi konten lain dari Lara Asih Mulya, S.Pd.

    Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

    Lanjutkan membaca