Hal yang membuat saya semangat berangkat ngajar adalah kehidupan pribadi murid-murid saya. Mereka banyak memberikan inspirasi, cerminan masalalu, higga ide baru. Entah apa yang menyebabkan mereka mau bercerita kepada saya tentang kehidupan pribadi mereka. Keluarga, persahabatan, sekolah, hingga percintaan.” Yah,…namanya juga remaja Bu,…ga oke kalo ga punya certa cinta hehe”. Begitu tutur mereka ketika mau cerita masalah hati.

Jatuh cinta itu rasa coklat, patah hati jadi broklat hehe. Dua hal yang akan saya tulis kali ini. Ketika remaja jatuh cinta, dan ketika remaja patah hati. Mendengar cerita tak akan ada habisnya. Mungkin tema, alur, dan akhirnya seragam. Yang membedakan ialah pelakunya. Kebiasaan remaja ketika jatuh cinta pun seragam.

Jatuh cinta (pacaran) Patah hati (bubaran)
  • Bikin kontrakan dengan nama “Dunia Milik Kita Berdua”. Kemana-mana berdua, rumus berita 5W+1H jawabannya juga pasti mereka hihi
  • Selalu seragam. Kalau siswa SD,SMP,SMA pakai seragam tujuannya adalah untuk menghilangkan kesenjangan diantara para murid. Kalau dua sejoli kemana-mana pakai seragam (kaos sama, helm sama, sepatu sama, bahkan HP juga sama) ini menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan paling serasi. Cintalah yang menyelaraskan mereka. Ciiiiieee
  • Jadi serba tahu. Kalau lagi jatuh cinta nih,..mbah Google aja kalah sama doa eehhh doi. Bayangin aja, password jejaring social kamu doi pasti kudu tahu. Ngapain aja, sama siapa, dimana, jam berapapun doi pasti tahu.
  • Mendadak rajin. Jatuh cinta itu lebih besar pengaruhnya dari narkoba. Beneran ta? Byangin aja yang bisanya males masuk sekolah semenjak ada doi rajin banget. Menganggap bimbel ga penting, mendadak minta ortu daftarin bimbel. Hayo siapa yang kek gini ??? :P
  • Jangankan bikin kontrakan. Negor aja males,…iya ga ??? kalau bias sih menghindar aja lah, ga lagi-lagi ketemu si eks.
  • Kalau udah bubaran nih,…anti banget sama barang-barang yang pernah jadi mascot pas pacaran sama si eks,…wiiiih jangan dibuang ya,…sumbangin aja sama yang butuh. Lebig berguna kan hihi
  • Semua akun jejaring social ganti baru dong,..yang lama biarlah berlalu. Keblokir juga ikhlas Lillahitaala hehe. Kadang, dibela-belain ganti nomor HP, dan ngorbani pulsa unuk biaya publikasi. Asal si eks ga tahu link kita yang sekarang.
  • Kalau dah bubaran amburaduuuuuuuuuuuul.jangankan bimbel. Masuk sekolah aja jarang,..alesannya banyak kepentingan keluarga padahal males ketemu yang dah sepeeeett hihi

Sebenarnya masih ada beberapa point lagi. Point di atas adalah tiga besar dari sekian banyak alas an klasik yang dilontarkan ketika jatuh cinta dan patah hati.




Dalam kegitan belajar mengajar, tentunya bukan hanya siswa yang merasakan kejenuhan dan kebosanan. Terutama siswa kelas akhir (yang akan menghadapi UNAS). Siswa merasa jenuh belajar dengan beragam alasan, karena suasana kelas yang tak nyaman hingga cara guru yang kurang menarik dalam penyampaian materi. Bagaimana jika situasinya berbalik, guru yang merasakan bosan dalam mengajar ? Read the rest of this entry »




Pendidikan untuk anak bisa didapatkan melalui berbagai macam media, tidak hanya di bangku sekolah yan melalui perantara guru, atau di lembaga bimbingan belajar yang bersifat formal. Selalu ada perubahan demi mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan anak didik yang berkualitas pula. Berbagai media pendidikan digunakan dalam belajar mulai dari yang sederhana hingga yang memenuhi segala aspek pendengaran,ucapan, dan penglihatan yang lebih dikenal dengan media audio visual yang sekarang ini marak digunakandi sekolah-sekolah formal. Karena memang penggunaan media audio visual (seperti film, rekaman suara dan sebagainya) ini lebih mudah dan menarik untuk siswa, namun tidak semua mata pelajaran bisa menggunakan media yang sama.

Jika keluar dari bangku sekolah, tentu saja pendidikan masih melekat dan tetap perlu diterapkan. Kabiasaan anak ialah menonton televise. Beragam acara televisi yang berubah dengan cepat setiap jamnya mampu memberikan pengaruh luar biasa pada perkembangan anak. Jika anak mampu menirukan segala hal yang ditampilkan di televisi, berarti televisi mampu member pengaruh yang sangat besar dengan cara yang mudah.

Tidak jarang anak lebih memilih untuk berlama-lama di depan televisi hingga hafal dengan baik setiap acara televisi yang disiarkan. Apalagi menjamurnya sinetron-sinetron remaja yang berlatar sekolah yang selalu dikemas seragam dengan adegan-adegan yang hanya meenonjolkan persaingan tidak sehat antar siswa, menonjolkan kekayaan yang akhirnya mengajarkan bahwa ada pertentangan antara si miskin dan si kaya, dan yang paling sering ialah terlalu di eksposnya adegan cinta monyet yang sebenarnya tidak terlalu penting. Meskipun hal tersebut terjadi secara nyata di kehidupan yang sebenarnya, seyogyanya bisa dipikirkan kembali untuk menggunakan ide-ide semacam itu. Tidak jarang, banyak anak yang terprofokasi dengan hal semacam itu, membuat semacam kompotan (gang khusus misalnya), atau mebawa barang-barang mewah seperti telepon genggam yang sebenarnya tidak berguna dalam lingkungan sekolah.

Peran orang tua sangat diperlukan untuk memberikan pengetian kepada anaknya, untuk tetap berada pada gaya hidup yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya, meskipun orang tua mampu memenuhi segala fasilitas ang dimaksudkan (HP misalnya). Dengan simpulan bahwa untuk memberikan pengertian dan pendidikan yang baik an sesuai bukan hanya tanggungjawab pendidik di sekolah saja dalam ha ini ialah guru. Tetapi pengawasan orang tua juga sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan dan perkembangan psikologi anak, dengan memberikan pembagian waktu dan tontonan yang tepat. Ini bisa dinakan kerjasama antara orang tua dan guru. Dengan begitu anak akan bisa mencemati mana yang bisa menjadi konsumsi mereka dan bukan. sehingga tidak terlalu terpengaruh.(apalagi dah ngerokok dari bayi hehehe)




Tadi pagi ke kampus,…seneng sih ketemu temen-temen. Ada dua tujuan yang pertama bimbingan skripsi,…(pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiing) yang kedua ngumpulin fotocopy KRS ktanya ada yang salah,..jadi dibenerinnya kolektif,…makasih ya mbak Wulan dah mau ngurus semuanya,…

EYD emang ga gampang,….ada yang mau ngajarin aku ga ?




Makasih ya….. buat some1 yang dah bantuin aku bikin blog ini, dan ngajarin semua hal tentang blog,…^_^ makasih Pak guru…..




Masalah ibu rumah tangga selain kegemukan adalah keuangan. Mengatur keuangan sebenarnya gampang-gampang susah. Awal bulan senyum mash manis mentereng di bibir. Kalau udah deket akhir bulan bawannya marah aja. Uang pada kemana ya, kok dompet udah tipis.Mungkin aplikasi ini bisa membantu.

amplop.in adalah aplikasi yang dibuat oleh dua orang hebat (menurut saya). M.Masbuchin dan Rizky Ramadhan. Aplikasi yang menyajikan cara untuk mencatat dan memprediksi pengeluaran sesuai dengan pendapatan. Hanya tinggal memasukkan berapa jumlah pendapatn kita. Kemudian menuliskan transaksi pada tiap tanggal yang kita perlukan. Secara otomatis jumlah pendapatan kita akan berkurang.

Angka kita minus atau plus akan diketahui dengan mudah. selamat mencoba amplop.in



Sep

15


Ini hanya ungkapan rasa kesal dan kecewa !!!

kabarinews.com (http://kabarinews.com/article.cfm?articleID=31508) ternyata memplagiat tulisan saya yang berjudul Mitos VS Logika,…

Ndak nyangka aja,..tulisan seringan itu redaksi mereka ndak bisa bikin,…emang gampangan kopas sih,…

saya kudu hamil dulu tuh, untuk dapetin inspirasinya,…

Apa dilaporin aja ya ke Google Adsense




Pendapat miring mengenai anak yang dititipkan terkadang memancing emosi setiap ibu yang melakukan hal tersebut. Belum tentu yang bersangkutan paham atas apa yang dialami oleh seorang ibu yang menitipkan anaknya di TPA. Ada banyak alasan mengapa seorang Ibu memilih TPA sebagai tempat penitipan untuk anak mereka. Beberapa alasan tersebut tentunya tidak semua diterima oleh Ibu lain begitu saja. Namun, jika kita melihat :

1. Ibu berperan ganda (ikut bekerja).
Ketika seorang Ibu harus membantu kewajiban ayah mencari nasfkah, maka segala sesuatu yang menyangkut keluarga terutama anak harus rela terbagi-bagi. Baik waktu maupun kasih sayang. Demi mencukupi segala kebutuhan keluarga, sang ibu dan ayah memilih TPA untuk menjaga anakknya selama waktu bekerja.Sepulang bekerja mereka masih punya banyak waktu, minimal untuk mengajak si kecil berbaik dan komunikasi.

2. Melanjutkan Jenjang Pendidikan.
Sebuah pepatah berkata, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Tak jarang banyak individu yang melanjutkan jejang pendidikan mereka uuntuk mendapatkan ilmu yang lebih matang. Tentunya gelar yang lebih tinggi pula. Misalnya, Jenjanng S-1 yang sudah dirampungkan, ingin dilanjutkan lagi ke S-2 bahkan sampai S-3. Tentunya tidak mudah mengatur waktu, menjadi seorang Istri, Ibu, dan Mahasiswa. Apalagi kampus yang dituju jauh dari kota asal. Keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sama kuatnya dengan tak mau berpisah dengan buah hati. Sekalil lagi TPA bisa menjadi solusi. Selama jam kuliah si kecil bisa berada di TPA. ketika usai bisa bersama lagi.

3. Kebutuhan Sosial Anak.
Layaknya orang dewasa. Anak-anak pun membutuhkan lingkungan sosial yang dapat membantu perkembangan mereka. Jika lingkungan tempat tinggal kita berada di sebuah perumahan yang pada umumnya sepi, jarang berjumpa tetangga, bahkan sifat saling acuh. Bisa saja si kecil kita ajak untuk bermain di dalam rumah, dengan beragam mainan yang ia punya. Atau mengajak jalan-jalan ke luar seperti ke taman atau mall. Namun, akan lebih baik jika si kecil bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Alasan inilah yang menjadikan TPA sebagai tempat untuk mencarikan si kecil teman bermain. Karena di TPA tidak hanya satu anak saja yang dititipkan. Biasanya satu TPA mengasuh 5-7 anak. Dengan begitu si kecil bisa mendapatkan teman yang sepadan, yang tentunya berprngaruh positif pada perkembangannya.

Beberapa Latar belakang tersebut yang menjadikan TPA sebuah alternatif. Bagi ibu yang bekerja, tetap bisa berkarir dan memberikan kasih sayang. Pendidikan yang diimpikan tetap tercapai, tanpa harus berpisah jauh dengan si buah hati. Begitu pula dengan kebutuhan sosial buah hati kita.




kenapa di depan huruf P pada Rp…… ga boleh ada spasi ???




Pak …

Aku lupa wajahmu

Durhaka ?

Tidak !

Kecewa ?

Tidak juga !

Lalu ?

Biasa saja !

Pak …

Kau ingat wajahku ?

Tidak ! kau masih kecil waktu itu

Kalau begitu kau punya potret ku ?

Emmm, di mana ya?

Aduh… Pak … Pak …

Pak…

Kau ingat aku siapa ?

Emmm….???

Jawab Pak !

Anak dari pernikahan kedua ku ? benar ?

Sudah besar rupanya ?

Pak … mengertilah !

Aku kecewa

“untuk seseorang yang sebanarnya selalu ku rindukan”



« Older Entries