Seragam Seorang Guru
Bismillahirrahmanirrahim…
Lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri memberikan banyak kemudahan bagi saya. Terlebih jurusan yang saya ambil adalah pendidikan. Tepatnya bahasa Indonesia.
Saya punya beberapa pengalaman mengajar, dan semuanya luar biasa. Setelah menikah saya semakin mendapat pelajaran yang berharga. Tentunya dari suami tercinta.
Pelajaran tersebut beragam. Salah satunya adalah etika berpakaian bagi seorang muslimah (di Google lengkap). Akhirnya saya memutuskan untuk memakai pakaian (baca abaya, gamis, atau jubah) untuk melamar kerja di salah satu sekolah swasta di Surabaya.
Saya memang diterima, karena Cara mengajar yang dianggap memenuhi syarat (menurut Kasek). Namun begitu saya meminta ijin untuk mengenakan pakaian abaya untuk mengajar, Beliau menolak.
Jika sekolah tersebut bisa menerima siswa beragama selain Islam, mengapa saya harus dijadikan masalah?
Pengalaman lain, ketika sudah tidak bekerja lagi di sekolah A. Saya kembali mengajukan lamaran ke sekolah B. Tanpa berpikir, bahkan bertanya saja tidak. Lamaran saya diabaikan. Lagi-lagi karena abaya saya. Saya disangka istri “teroris”.
Ya… Sudahlah. Alloh Maha Tahu. Dua minggu kemudian saya mengajukan lamaran lagi ke sekolah C. Masih di kawasan Surabaya. Pihak sekolah melakukan sederetan tes.
Pembuatan RPP Dan simulasi mengajar sudah pasti. Saya pikir cukup. Ternyata saya masih harus menjalankan tes tentang pengetahuan agama dan tes mengaji.
Ada pertanyaan yang terlontar,”Bu Lara ini Islam berbendera apa? Hijau, biru, orange, atau Hitam?”. Lagi-lagi karena abaya saya.
Ya Alloh….apa Ada yang salah dengan baju yang saya kenakan itu ?
Apakah memang baju mengajar seorang guru sudah memiliki ketetapan harus begini dan begitu? Tidak boleh begini dan begitu ?
Katanya Bhineka Tunggal Ika…. Masih berbeda cara berpakaian saja sudah disangka macem-macem…. Belum lagi kalau ternyata saya bisa bikin BOM (Bakso Oedang Maknyus) Astagfirullah.
Tukang Parkir Itu Si Tunagrahita
Akhirnya nulis lagi di blog kesayangan. semenjak ada masalah sama hosting blog saya hilang begitu saja. Tulisan yang ada juga belum bisa kembali. Tidak Ada salahnya mencoba lagi. Nulis, nulis, nulis !!!!
Tulisan saya yang hilang banyak membahas tentang Tunagrahita. Saya kembali membahas Tunagrahita karena pengalaman saya beberapa minggu kemarin.
Dua minggu lalu, saya pulang ke rumah Mama. Kebetulan susu Qays habis. Uang di dompet tinggal Rp.20.000,00 saja. Akhirnya dari stasiun kereta api Mojokerto saya mampir dulu di ATM terdekat yang kebetulan berada di dalam lingkungan hotel. Ketika saya sampai di ATM antrian sudah panjang. Saya deretan terakhir. Selama menunggu saya tertarik pada tukang parkir hotel yang sedang memberi aba-aba pada salah satu supir.
Karena sedikit lupa dan takut salah orang saya memutuskan untuk tidak menyapa. Namun, tiba-tiba saja tukang parkir itu mengucapkan Salam kepada saya. “selamat siang Bu…ini Ari”. Sapa dia agak kurang jelas.
Ari adalah salah satu anak penyandang cacat Tunagrahita dengan cacat ganda Tunarungu. Saya kenal Ari Dari salah satu SLB di Mojokerto. Dua tahun lalu saya mengambil data untuk skripsi Dari SLB tersebut.
Saya berbincang lama dengan Ari. Kebetulan Ari sudah dapat jam istirahat. Saya lebih banyak mendengarkan ceritanya. Ternyata setelah lulus dari SMALB ia memutuskan untuk bekerja.
Dia melamar di banyak tempat dengan profesi yang dia anggap bisa. Tuhan pasti memberikan jalan pada siapa saja yang mau berusaha. Ari pun mendapatkan pekerjaan sebagai tukang parkir.
Ari menutup ceritanya dengan sebuah berita yang jauh membuat saya senang. Dua bulan lagi dia Akan menikah. Pertemuan dengan Ari membuka pemikiran saya. Lagi dan lagi, bahwa serial orang berhak untuk sama. Baik dalam mendapatkan pekerjaan, bahkan asmara.