Berbagi Cerita Seputar TPA

December5

Ini adalah pengalaman saya tentang menitipkan anak. Saya lebih dulu selesai kuliah dibandingkan suami. Namanya berumah tangga, hidup terpisah sama sekali tidak nyaman. Meskipun ada waktu bertemu setiap akhir pekan. Berjauhan dengan suami bukalah tanpa alasan. Saya harus mengajr disebuah LBB, dan suami harus memenuhi jadwal kuliahnya. Saya memilih tinggal di Mojokerto karena tidak mau berpisah dengan anak saya yang baru berusia 6 bulan. Suami terpaksa harus kos di Surabaya, karena masih tercatat sebagai Salah satu Mahasiswa dari sebuah kampus ternama.

Pada akhirnya saya menyerah dengan keadaan seperti ini. Keputusan harus saya ambil. Saya harus ikut suami, meskipun saya harus berhenti mengajar untuk sementara waktu. Si kecil saya ajak serta. Tinggal di sebuah kos-kosan kecil yang cukup nyaman. Baik suasana dan tetangganya, Kebetulan tempat tinggal sementara kami itu masuk kawasan perumahan dosen. Untunglah anak saya cukup baik dalam beradaptasi.

Sekilas Qays nampak baik-baik saja dengan kesehariannya bersama saya dan Ayahnya. saya sadar satu hal, Qays butuh teman sebaya untuk diajak bermain. Tentunya dengan bahasa anak-anak dan kebiasaan anak-anak. Mainan, hiburan, bahkan perhatian kami ternyata belum sempurna, Qays butuh teman. Setiap sore, Ibu-ibu berkumpul di depan kompleks. Sembari menyuapi anaknya bahkan menemani bermain.

Sampai akhirnya berujung pada pembicaraan Qays biasanya main sama siapa kalau pagi ? berawal dari perbincangan itu, Mama Echa memberikan saran untuk memasukkan Qays ke TPA kampus Hang Tuah. Beragam palaman positif diutarakan oleh Mama Echa. Malamnya saya berdiskusi dengan suami. Awalnya saya ragu-ragu, karena saat itu banyak kasus penganiayaan anak dan penculikan anak. Suami lebih bijak menyikapi kasus tersebut, dan terus meyakinkan saya bahwa TPA lebih banyak manfaatnya.

Bismillah,..saya pun menyepakatinya. Pagi, sekitar pukul 08.00 saya, Qays, dan Ayahnya datang ke TPA yang dimaksudkan Mama Echa. Lokasinya berada di dalam kampus, tepatnya di Lab Penelitian Perkembangan Anak, yang memang digunakan oleh Mahasiswa jurusan Pasikologi Hang Tuah ketika mereka membutuhkan subjek penelitian. Terutama perkembangan Psikologi anak. Qays tertarik dengan tempat barunya itu. Karena lebih banyak teman seusia dia, dan beragam mainan baru. Tenaga pengasuhnya cukup profesional. Paham akan kondisi anak kecil dan apa saja yang menjadi kebutuhan anak seusia Qays.

Semakin yakin, hari itu juga saya dan suami mendaftarkan Qays. Masih dalam tahap mencoba, kami membayar harian, nanti kalau Qays sudah betah baru per bulan. Pengasuh Qays selalu menekankan kepada kami sebagai orang tua. JIka Qays sudah diantar ke TPA kami harus ikhlas dan tega, dalam artian tidak boleh memikirkan Qays secara berlebihan. Intinya harus percaya kepada yang mengnasuh dan percaya bahwa Qays akan baik-baik saja. TPA menjadi tempat dan pengnalaman baru bagi Qays. Qays bisa punya teman, Ayahnya bisa bekerja dengan leluasa, dan saya bisa mengurus pekerjaan rumah tangga tanpa harus was-was ketika masak Qays akan ikut main pisau, atau tabung gas.

Ceritanya bersambung yaaaa 🙂 !.

Tempat Penitipan Anak (TPA)

December3

Belum terlupakan, ada yang pernah berkata, bahwa perempuan terlahir dalam tiga kesempatan. Kesempatan pertama terlahir sebagai dirinya sendiri (bayi perempuan). Kesempatan kedua terlahir sebagai seorang istri. Ketiga terlahir sebagai seorang ibu. Bagi yang telah terlahir dikesempatan ketiga ini, tentunya bisa merasakan bagaimana suka dan dukanya menjadi Ibu.

queen n qays

Sering kita jumpai, terutama di kota-kota besar. Seorang Ibu memiliki peran ganda, harus menjadi Ibu yang sesungguhnya sekaligus berkarir. Beragam alasan yang dikemukakan, mengapa mereka harus menjalani dua hal tersebut. Salah satunya adalah demi mempersiapkan masa depan terbaik si kecil, para Ibu itu rela membagi waktu mereka. Antara keluarga dan karir.

Ketika pagi dimulai, mereka harus mrnyiapkan segala kebutuhan, untuk si kecil dan suami tercinta. Pukul 8 pagi sudah harus berada di tempat kerja (kantor. sekolah, rumah sakit, dll). Hingga nanti pukul 4 sore. Nah, si kecil ? tak jarang anak-anak mereka yang masih kecil terpaksa ditinggal di rumah dengan neneknya (seperti saya :(), solusi lain ialah membayar jasa pengasuh. Namun, kasus pengasuh yang menyiksa anak majikan menjadikan para ibu enggan mengambil langkah ini.

Solusi lain ialah mempercayakan anak mereka kepada lembaga penitipan anak. Lebih dikenal denga sebutan TPA. Apa TPA itu sebenarnya ? Kalau menurut saya, TPA ialah sebuah jasa kepengurusan anak yang dikelola secara kolektif. Keberadaan TPA mulai menjamur di kota-kota besar. Karena sudah jelas siapa yang menjadi sasarannya.

Keberadaan TPA cukup membantu, terutama bagi para Ibu yang harus bekerja sampai sore. Selama bekerja si kecil bisa dititipkan kepada TPA dengan para perawat yang sudah terlatih, bahkan teruji kesabaran dan ketelatenannya. Namun, keberadaan TPA ini tidak semuanya pro. Ada beberapa orang tua yang bertahan untuk tetap menitipkan anaknya kepada orang tua atau sanak keluarga. Alasannya karena takut anak mereka tidak dirawat dengan baik dan aman. Bahkan, banyak orang tua yang rela bertemu anak-anak mereka seminggu hingga sebulan sekali karena rasa takut tersebut.

Segala keputusan pasti ada resiko yang harus dihadapi. Begitu pula dengan keberadaan TPA. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua.TPA memiliki sisi positif yang menguntungkan, juga memiliki bagian yang harus disikapi secara hati-hati dan lebih bijak.

posted under Umum | 5 Comments »