Allah Kirimkan Mbak Siti. Tapi Saya Tolak..! #HijrahPart2

Bismillah..!

Alhamdulillah,  masih diberi nikmat yang luar biasa pagi ini. Alhamdulillah, masih dapat pinjaman laptop dari pak suami. Yuk ah dilanjutin lagi ceritanya. Kemarin nulis tentang hijrah part 1. Tulisannya di kritik sama pak Suami terlalu pendek. Begitu dijelaskan nulis nya pake HP. Doi senyam senyum sambil bilang ” ooooooooooh”. Biarin..yang penting nulis 😛

Sudah sarapan Mak..? saya cuma nanya lo, ndak ngajakin hihihi. Kalau belum, sama dong…hehe. Diingat lagi dikit, pas zaman SMA tuh. Kerudung yang saya pakai kan tebel banget. Ndak bisa di model-model  Mak, super kaku dan jadul. Pakainya ya di julurkan sampai menutup semua dada. Baru ngeh banget ternyata itu kerudung kainnya kain wolfis. Hahahaha

Alhamdulillah sih, selama 3 tahun di bangku SMA kalau sekolah masih istiqomah ndak dibongkar pasang. Teman-teman SMA saya pada pake kerudungnya dari bahan paris. Menurut saya sih tipis dan lemes. Berpikir juga, “Wih enak nya pakai yang tipis gitu. Ndak seberapa gerah”. Minta lah sama Mama dibelikan kerudung sejenis itu. Dan jawaban mama adalah, ” Kerudung apa itu, buat meres singkong itu mah, sebelum jadi combro”. Alaaaamaaaaak mamah gue (Tepok jidat).

Alhamdulillah sampai jadi mahasiswa, itu kerudung masih nangring di kepala saya. Nah disini nih Mak. Banyak hal yang seharusnya tidak terjadi. Tapi terjadi juga.

Saya tercatat sebagai mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia angkatan 2008. Kampus Universitas Negeri Surabaya. Lebih populer di sebut UNESA.

Walaaaaah, pertama jadi mahasiswa nano nano rasanya. Ya Norak, Ya bangga, ya sombong, ya banyak deh. Sok ngaku, bukan cuma saya kan yang punya perasaan itu. Apalagi, saking bangganya sama almamater nih. Kemana pun kita melangkah jaket jurusan yang dipakai. Padahal ndak pernah dicuci berbulan bulan lamanya hahaha.

Kampus, begitu heterogen. Makhluk model apa aja ada. Termasuk para muslimah dengan gaya berhijab nya. Mulai dari yang ala kadarnya banget sampai yang super syar’i. Saya kenal dengan salah seorang kakak kelas. Namanya Mbak Siti. Masyaallah, beliau ini teguh banget dalam berdakwah, terutama tentang menutup aurat sesuai syariat.

Mbak Siti ini semacam kakak pembina di regu saya ketika ospek. Semakin lama kenal semakin banyak hal yang terjadi. Termasuk ajakan mbak Siti untuk mengubah cara berpakaian saya yang masih belum syar’i. Yaaaah saya masih suka pakai celana jins, kaos oblong, dengan kerudung instan alakadarnya. Dan masih sering menyingsingkan lengan kalau sedang gerah hahahha. Ya Allah, Ampuni hamba-Mu ini.

Pernah suatu ketika. Saya sedang dalam keadaan yang kurang nyaman. Sedang tidak ingin bersinggungan dengan siapapun. Hanya ingin sendiri. Apa patah hati..?? hahaha Bukan Mak. Lebih memikirkan masalah keluarga aja kok. Siang itu mbak Siti datang ke kosan. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Niat  mbak Siti insyaallah baik. ingin memberikan hadiah kepada saya. Tapi apa yang saya lakukan..? Ya Allah Maak, saya ngumpet dikamar mandi, dan meminta teman saya berbohong untuk mengatakan, “Mbak, maaf, Lara lagi ndak di kosan”. Huaaaaaaaaaa mbak Siti dimanapun engkau berada, aku minta maaf mbaak.

Tau ga Mak,…apa yang mbak siti bawa buat daku..? satu stel gamis syar’i beserta kerudung lebarnya Mak. Meskipun ndak baru, tapi itu layak banget. Sambil dikasih memo, “Adek ku sayang, pakailah ini. Maka Allah akan sangat sayang padamu”. Sudah seperti itu Mak. Dan saya masih belum mau pakai. Bingkisan itu saya kembalikan, lewat teman kosnya mbak siti.

Perasaan saya waktu itu. Kenapa sih harus setiap hari maksa saya memakai gamis. Kenapa sih harus ngajak kajian setiap hari. Saya kan punya kesibukan yang lain. Yang penting mah saya sholat, baca Qur’an walai semampunya. Kenapa sih harus setiap hari mengajak saya mengganti gaya berpakaian. Tidak bolehkah saya menjadi diri saya sendiri. Dengan memakai apa yang saya senangi…? Dan kenapa sih mbak siti yang bukan siapa-siapa saya harus selalu mencampuri kehidupan saya. itu kenapa bingkisan dari mbak siti saya kembalikan.

Tau ga mak,…semenjak itu saya melihat mbak siti yang 180 derajat berbeda dari biasanya. Beliau tidak pernah lagi mengajak saya berlama-lama mengobrol. Hanya menyapa seperlunya saja. Ya Allah, mungkin beliau sakit hati dengan penolakan saya. Tapi, inilah yang di sebut “gugur kewajiban”.  Jujur Mak, saya nya yang waktu itu dableg banget. Udah diingetin berkali-kali masih aja ga berubah. Mungkin mbak siti sudah merasa mentok usahanya. Dan akhirnya mengajak yang mau saja.

Saya belum sadar bahwa ada teman Dunia akhirat yang Allah kirim kan untuk saya waktu itu. Sekarang baru saya sadar. Bahwa apa yang kita sukai untuk dikenakan, belum tentu baik untuk kita. Bahwa kebaikan dan kasih sayang tidak hanya berasal dari keluarga terdekat saja. Bahkan dari dia yang bukan siapa-siapa kita. Bahwa beribadah tidak cukup hanya dengan sholat dan ngaji Qur’an saja. Ada sesuatu dari dalam Al-Quran yang bisa dikaji lebih dalam lagi. Dan mengkajinya memang harus setiap hari, demi keimanan kita.

Semoga Allah melimpahkan keberkahannya kepada siapapun yang mengingatkan saya waktu itu. terutama kepada Mbak siti. maafkan saya mbak, insyaallah ada niat untuk meminta maaf secara langsung. Semoga Allah mengijabah. Aamiin.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *