Browsing Uncategorized

Hello world!

August17

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

??? EYD ??? susaaaaaaaah

September16

Tadi pagi ke kampus,…seneng sih ketemu temen-temen. Ada dua tujuan yang pertama bimbingan skripsi,…(pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiing) yang kedua ngumpulin fotocopy KRS ktanya ada yang salah,..jadi dibenerinnya kolektif,…makasih ya mbak Wulan dah mau ngurus semuanya,…

EYD emang ga gampang,….ada yang mau ngajarin aku ga ?

Terima kasih,…..

September16

Makasih ya….. buat some1 yang dah bantuin aku bikin blog ini, dan ngajarin semua hal tentang blog,…^_^ makasih Pak guru…..

Mengapa Memilih TPA ?

September14

Pendapat miring mengenai anak yang dititipkan terkadang memancing emosi setiap ibu yang melakukan hal tersebut. Belum tentu yang bersangkutan paham atas apa yang dialami oleh seorang ibu yang menitipkan anaknya di TPA. Ada banyak alasan mengapa seorang Ibu memilih TPA sebagai tempat penitipan untuk anak mereka. Beberapa alasan tersebut tentunya tidak semua diterima oleh Ibu lain begitu saja. Namun, jika kita melihat :

1. Ibu berperan ganda (ikut bekerja).
Ketika seorang Ibu harus membantu kewajiban ayah mencari nasfkah, maka segala sesuatu yang menyangkut keluarga terutama anak harus rela terbagi-bagi. Baik waktu maupun kasih sayang. Demi mencukupi segala kebutuhan keluarga, sang ibu dan ayah memilih TPA untuk menjaga anakknya selama waktu bekerja.Sepulang bekerja mereka masih punya banyak waktu, minimal untuk mengajak si kecil berbaik dan komunikasi.

2. Melanjutkan Jenjang Pendidikan.
Sebuah pepatah berkata, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Tak jarang banyak individu yang melanjutkan jejang pendidikan mereka uuntuk mendapatkan ilmu yang lebih matang. Tentunya gelar yang lebih tinggi pula. Misalnya, Jenjanng S-1 yang sudah dirampungkan, ingin dilanjutkan lagi ke S-2 bahkan sampai S-3. Tentunya tidak mudah mengatur waktu, menjadi seorang Istri, Ibu, dan Mahasiswa. Apalagi kampus yang dituju jauh dari kota asal. Keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sama kuatnya dengan tak mau berpisah dengan buah hati. Sekalil lagi TPA bisa menjadi solusi. Selama jam kuliah si kecil bisa berada di TPA. ketika usai bisa bersama lagi.

3. Kebutuhan Sosial Anak.
Layaknya orang dewasa. Anak-anak pun membutuhkan lingkungan sosial yang dapat membantu perkembangan mereka. Jika lingkungan tempat tinggal kita berada di sebuah perumahan yang pada umumnya sepi, jarang berjumpa tetangga, bahkan sifat saling acuh. Bisa saja si kecil kita ajak untuk bermain di dalam rumah, dengan beragam mainan yang ia punya. Atau mengajak jalan-jalan ke luar seperti ke taman atau mall. Namun, akan lebih baik jika si kecil bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Alasan inilah yang menjadikan TPA sebagai tempat untuk mencarikan si kecil teman bermain. Karena di TPA tidak hanya satu anak saja yang dititipkan. Biasanya satu TPA mengasuh 5-7 anak. Dengan begitu si kecil bisa mendapatkan teman yang sepadan, yang tentunya berprngaruh positif pada perkembangannya.

Beberapa Latar belakang tersebut yang menjadikan TPA sebuah alternatif. Bagi ibu yang bekerja, tetap bisa berkarir dan memberikan kasih sayang. Pendidikan yang diimpikan tetap tercapai, tanpa harus berpisah jauh dengan si buah hati. Begitu pula dengan kebutuhan sosial buah hati kita.

ga boleh pake spasi?….

September14

kenapa di depan huruf P pada Rp…… ga boleh ada spasi ???

latihan ngajar…

September13

dscn1005.JPG

foto ini mengingatkan saya pada kegiatan PPL I (micro taeching). Eeeeemmm ini waktu belajar ngajar, tapi muridnya teman-teman seperjuangan alias temen-temen satu tim hehehe

kompak banget, saling bantu, dukung, dan ngasih kritik membangun.

Sekarang mah dah jarang ketemu, sibuk sama tugas akhir masing-masing

ketemu pun seminggu sekali kalau kuliah

ternyata ngajar itu ga gampang ya…

Temen-temen PPL ku di Madiun

September12

kalau inget-inget waktu itu seruuuuuuuuuuu banget

kami ngambil foto ini pas ada pengajian lo….hehehe bandel ya

cantik-cantik tapi narsis

Memilih TPA yang Klik di Hati Bunda,…

September11

Sebagai seorang Bunda tentunya ingin melakukan hal terbaik untuk buah hati. termasuk memberikan fasilitas secara fisik maupun psikis. Saya memilih TPA sebagai rumah kedua Qays,karena saya dan suami sadar bahwa Qays butuh teman sebaya dalam perkembangan sosialnya. Hidup di kota besar memang harus benar-benar cermat, apalagi sebagai pasangan muda kami tidak memiliki keluarga yang bisa dijadikan orang tua. Keluarga kami waktu itu adalah Bapak dan Ibu kost yang dermawan,Keluarga Mama Echa, keluarga Pak Bahril, dan Mama Kinan. Merekalah yang selalu berbagi pengalaman dengan kami mengenai kehidupan rumah tangga.

Ketika Mama Echa menyarankan saya untuk memasukkan Qays ke TPA, saya merasa cukup terbantu. Pada akhirnya saya dan suami tahu bagaimana memilih TPA yang klik di hati :).

1. Ketahui dengan Pasti Latar Belakang TPA.
Zaman yang serba canggih memberikan fasilitas kepada kita untuk mengetahui segala informasi dengan mudah dan cepat. contohnya internet. Sebelum memasukkan Qays ke TPA saya dan suami mencari info selengkap-lengkapnya melalui internet. Mulai dari nama TPA, visi-misi, hingga berapa lama TPA tersebut berdiri. Demi anak, tentunya kita menginginkan keamanan dan kenyamanan. Saran saya carilah TPA yang menjadi pusat laboratorium penelitian psikologi anak usia dini.

2. Cerita Teman Perlu dipertimbangkan.

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita punya banyak kenalan. Jika memiliki teman yang seprofesi, Bunda dapat berbagi banyak pengalaman tentang merawat buah hati. Begitu halnya dengan info peneitipan anak yang klik dihati. Teman akan lebih dapat dipercaya pengalamannya dibanding dengan promosi yang berasal dari luar. Namun, telaah kembali baik dan buruknya. Jika teman bunda cocok, belum tentu dengan kita.

3. Jarak Antara Kita (Bunda dan Si Kecil).

Jarak menjadi sebuah pertimbangan yang sama pentingnya. Jika Bunda bekerja diluar, pastikan TPA yang Bunda pilih jaraknya tidak terlalu jauh dengan kantor. Hal ini bertujuan, jika ada sesuatu yang tak disangka daan berhubungan dengan si kecil, Bunda bisa dengan cepat menuju ke TPA.

sementara ini dulu ya,..lagi blank neh hihi

SMS Siapa…?

August29

Pernah tau ekspresi kesel orang tua yang lagi baca SMS ? Wajahnya pasti dilipet abis gara-gara ga bisa dan ga ngerti SMS yang dikirim sama anaknya. Kenapa juga bahasa tulis SMS kudu di singkat-singkat ?

Banyak alesan anak muda nyingkat nahasa SMS, biar ga ngabisin karakter, biar tetep kirim Teks SMS dengan Biaya sekali kirim, dll.

Tapi kalau yang dikirimi SMS Emak atawa Babe kita, kebayang ga gimana pusingnya? Contoh ni ya

“mak,..Udin G Plng. Maen kRmh Tmn. G Ush Msk Nsi,Q Mkn Dlr” Bandingin sama yang ini “mak,..udin gak pulang, maen ke Rumah temen, gak Usah masak nasi, aku makan di luar”. Emak si Udin lebih gampang baca yang mana tuh?

Boleh aja sih nulis SMS pake singkatan sesuai dengan keinginan kmu, tapi lihat sikon ma siapa yang kita kirimin. Aku pingin tau Cara kalian nulis SMS lewat komen aja deh gampang hehehe

Akhirnya cium tangan juga,…

July3

Dulu,…gada alesan untuk masuk jurusan bahasa dan Sastra Indonesia,…apalagi ambil prodi pendidikan,…

Tapi,..makin lama masuk makin asik,…ada banyak hal yang aku anggap nguntungin banget buat pergaulan aku,…yang pasti ga pake minder ato ngrasa paling cupu,…hehe

Sekarang dah semester delapan, dah waktunya mikir kelulusan,…selama hampir empat tahun ini,..aku ga pernah malu atau ga bangga sama jurusan aku,..apalagi sama kampus UNESA tercinta,…

Ternyata JBSI punya banyak dosen yang super duper keren,…apalagi klo dah urusan pendidikan, bahasa, dan sastra…ada dua dosen yang menurut aku paling keren,…Pak Yatno sang pakar pendidikan,…beliau jagonya bikin permaian,…poko’nya asiiiiiiiik. Pak yatno ini juga yang ngasih tugas bikin blog. Kata temen-temen gini,”Pak Yatno ngasih tugas bikin blog,…biar mahasiswanya ga ****blog”. hehehe

Nah,…yang satu lagi Bapak Gatot Susilo dosen sintaksis,…aku paling takut klo ketemu ma beliau, bukan lantaran beliau nyeremin lo,…tapi gimana gt. Beliau ini pakarnya bahasa baku,…puisi dan cerpen karya beliau juga kalimatnya baku semua. Wah,…klau Pak Gatot baca tulisan ini aku pasti dapet julukan “pembunuh berdarah dingin” (Hai,..PR’04 kalian ga lupa kan julukan ini?)
Ga apa-apa deh yang penting aku dah dapet kesempatan cium tangan beliau tadi pagi,…di Ketintang,…kereeeeeeeeeen padahal selama ini aku takut banget. Beliau masih inget nama aku juga lo,…

kenapa ya,..Pak Gatot ga pernah minta ganti rugi untuk setiap fotoCopy materi yang diberikan?

« Older Entries