
Menjelang 100 hari Mama. Rasa kangen yang luar biasa tak terbendung. Masih belum percaya bahwa mama sudah tak lagi di dunia.Rasa yang tak terbendung ini membuat ingatan masa lalu mencuat dengan sendiri nya. Membuka album-album kenangan bersama mama. Mengingatkan Aku pada masa kecil bersama beliau. Pagi itu, aku memang malas sekali ke sekolah. Ada perasaan, “Ah, di sekolah hari ini ndak ada yang penting, gitu-gitu aja”.Bangun tidur tak seperti biasanya. Tanpa buru-buru dan tanpa rasa takut akan terlambat. “Mbak,…kamu ndak sekolah ? kok masih santai”. Tanya mama dari dapur. Ya,…Mama selalu memanggil ku dengan sebutan “Mbak”. Kata mama supaya adek-adek ndak “njambal atau ngoko”. Kalau memanggil ku.Aku masih belum menyahut. Tapi mataku sudah terbuka, dan sadar.
“Mama marah ga ya kalo Aku bilang ga mau sekolah hari ini”. Pikiranku penuh dengan asumsi itu.Aku lama tidak menyahut, Mama mendekat. “Hei,…mbak sakit ?”. Sembari memengang kening ku. “Enggak sih ma, malas ke sekolah hari ini ma, boleh kah kalau bolos ? janji hari ini aja kok ma?”.Mama langsung bawel 😁 “Mbak ada masalah sama teman ? atau sama guru ?”. Jawabanku tetap sama, “enggak ma, Lala males aja ke sekolah, bosan”.Akhirnya Mama yakin juga kalau Aku memang sedang malas ke sekolah. “Mbak, ga boleh main-main ke luar ya, di rumah aja, bantuin Mama beberes”. Tanpa protes Aku melakukan apa yang di perintah kan Mama. Sekitar jam 11 siang Mama mengajak ku ke Pasar.
“Mbak,..mau ikut mama ke pasar ? tapi ndak boleh rewel ya, di pasar panas, kadang bau juga”. Tanpa ragu lala menjawab iya.
Mama seorang pedagang, kebetulan waktu itu mama dagang sandal yang langsung di datangkan dari Tasikmalaya. Mama biasa kirim ke penjual-penjual eceran di pasar.Pasar Mojoagung menjadi pasar langganan mama untuk kirim sandal. “Mbak, bantu mama bawa 1 kodi aja ya, yang lain biar mama”. Aku membawa 2 kantong plastik di tangan kanan dan 2 kantong lagi di tangan kiri. Sambil nyengir Aku bergumam dalam hati, “wiiihhh berat euy”. Seolah tau apa yang Aku ucapkan, Mama berkata, “Kenapa mbak ? berat ya, nih banyakan mama kan? “. Sambil tersenyum dan mempercepat langkah nya.
Kami naik angkutan umum, karena banyaknya barang tidak mungkin naik motor. Selama perjalanan Mama sesekali berbincang dengan supirnya.Tanya bagaimana kabar pak supir hari itu. Tanya juga bagaimana kabar anak istri nya. Dan sudah bberapa kali PP hari ini. Ya,..begitulah Mama. Aku menikmati perjalanan hari itu. Sesampainya di pasar, Aku ikuti semua langkah Mama.Toko pertama, Mama hanya menaruh beberapa kodi barang saja.
“Bu,…saya masuk dulu aja ya, sampean ntar aja, kan tutupnya paling siang”. Mama melangkah lagi.Di belakang mama, Aku memperhatikan semua gerak geriknya. Cara mama berbicara dengan orang-orang. Sampai akhirnya Aku merasakan ada yang ga adil nih.“Kok gini sih ? seharus nya Mama dapat nya kan ga segitu”.Dalam pikiranku, banyak pertanyaan yang ingin segera di sampaikan kepada Mama. Namun, masih tertahan karena mama masih sangat sibuk.Mama mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas. Kemudian menerima uang seadanya dari pelanggannya. Mama naruh barang lagi. Begitu seterusnya.Aku yang tau harga per kodi sandalnya semakin merasa ada yang salah dengan cara kerja mama. Sesekali mama mengenalkan ku kepada teman-temannya. “Kok tumben Mbak Bibah, anaknya di bawa ?”. Mbak Bibah sapaan akrab mama.
“Ga apa-apa, biar sekolah dagang hari ini”. Sembari senyum dan berlalu.Uuuuuhhh rasanya capek banget, panas, berat, dan haus. Tapi masih harus muter-muter lagi. Terakhir mama berhenti agak lama di toko paling depan, sembari bercerita banyak hal.Saya sih asik lihat-lihat majalah. Kebetulan orang nya jualan majalah bekas. “Mbak, kamu lapar ? Ayo beli bakso!”. Ajak Mama.Sembari makan, Aku menanyakan banyak hal kepada Mama. “Ma,..kok uang nya Cuma dikasih sebagian ? seharusnya mama kan dapat banyak. Kok orang-orang ngasihnya Cuma sedikt. Mama juga ngapain orang belum lunas kok sudah di kasih barang lagi ?”.“Mama pinginnya ya kontan mbak, tapi orang-orang adanya uang segitu.
Ya ndak apa-apa, Allah kasih nya segitu buat kita. Nanti mama tinggal nagih-nagih aja uang nya tiap minggu, sudah ndak bawa-bawa barang lagi”.Hari itu, Aku tidak menyesal meninggalkan sekolah. Aku dapat pelajaran tentang bagaimana berdagang yang efektif.”Oke,..Lala mau jadi pedagang, tapi lala ga mau kalau di kreditin seperti sistemnya mama. Mau beli kontan oke, kalau ndak mau ya mohon maaf.” Kataku sama Mama.
Sistem ini Aku terapkan di bisnis jualan mukena yang ditinggalkan Mama.Dalam berdagang kalau mau semua baik-baik saja ternyata pembayaran 100% tetap menjadi solusi terbaik. Berlaku untuk ecer maupun partai.Pelajaran lainnya yang Aku dapat hari itu adalah bagaimana menghargai orang yang sudah menjual jasanya (supir angkot). Dengan menyapa dan bertanya tentang pribadinya. Membuat orang tersebut merasa di hargai.
Tidak hanya merasa dia jual jasa dan kita bayar jasanya.Dari kejadian hari itu, Aku semakin menghargai setiap apa yang diberikan Mama kepada keluarga. Aku sudah merasakan bagaimana membawa barang yang cukup berat. Sedangkan kenyataannya, pembeli hanya membayar seadanya. Dan semua itu di syukuri oleh Mama.
Mama mengganti semua mata pelajaran yang seharusnya Aku terima di sekolah dengan pelajaran yang tidak pernah di lupakan sepanjang hidupku. Dan menjadi bekal di masa depan, InsyaaAllah.Terima kasih untuk pelajaran hari itu ma,…mama luar biasa ^_^.
