Lara Asih Mulya

Jauh jauh ya bad mood, biar bisa nulis terus..! :)

Siswa Tidak Menyukai Guru

April28

Proses belajar mengajat kadang kala tidak berjalan dengan baik. Misalnya di sekolah. Masalah yang sering timbul adalah siswa terlambat masuk, tidak mengerjakan tugas dengan baik, melanggar peraturan sekolah, dll. Beberapa hal ini sering membuat para guru kewalahan. Sampai pada keputusan final harus dikembalikan kepada orang tua. kekacauan demi kekacauan yang diciptrakan oleh siswa sering membuat beberapa guru jengkel. Tak jarang semua guru mengenal siswa tersebut karena kenakalannya. Namun, jika kenyataan tersebut berbalik arah ? Siswa yang tidak suka pada gurunya. Read the rest of this entry »

posted under Pendidikan | 20 Comments »

Guru Naksir Murid

April27

“Yah,..namanya juga jodoh, disyukuri saja”. Pernah dengar kalimat ini terucap dari orang tua kita ? Memang benar, yang namanya jodoh, pati, dan rizki itu sudah ada yang mengatur. Tak perduli siapa dan bagaimana, kalau jodoh ndak bakal kemana.

Kalau guru yang masih bujang ketemu jodohnya di sekolah dan seprofesi saya rasa ndak ada masalah. kalau terbalik, guru yang naksir muridnya ? Masalah akan jadi masalah kalau kita menjadikan itu masalah. Kalau tidak tentunya akan baik-baik saja.Banyak kok Guru yang nikah dengan muridnya sendiri.

Ketika seorang guru naksir muridnya adalah hal yang wajar. Manusia diciptakan dengan rasa saling asih. Kalau hal ini terjadi kepada Anda (yang berprofesi sebagai guru dan masih lajang) saran saya,

  • Pastikan perasan Anda tidak terdeteksi oleh biang gosip. Mengapa demikian mencegah adanya berita yang bukan-bukan.
  • Jangan membaurkan perasaan Anda dengan kegiatan akademik, apalagi yang berhubungan dengan nilai.
  • Pastikan siswa yang Anda taksir tahu tentang perasaan Anda.
  • Silaturahmi ke rumah murid Anda, Pelan tapi pasti utarakan perasaan Anda kepada orang tua murid.
  • Kalau si murid masih jauh dari kelulusan, sabar menunggu ya Bang,…
  • Bersikaplah profesional ketika di sekolah, kalau bisa kurangi pergi berduaan. Apelnya di rumah saja. (ini kalau udah disepakati sama ortu).

Guru juga manusia kan, jatuh cinta itu indah. Semangat !

posted under Umum | 32 Comments »

Mengatasi Rasa Jenuh di Kelas

February16

Kejenuhan adalah rasa yang sering timbul selain rasa malas. Baik itu pada asiswa maupun pada Guru. Namun, lebih sering melanda siswa di sekolah. Apalagi, jam pelajaran eksak yang diletakkan di akhir pelajaran. Lapar, kantuk, dan lemahnya konsentrasi. Hal ini biasa terjadi, terutama pada sekolah-sekolah yang menerapkan sistem fullday dan bimbingan belajar. Kelas 9 dan XII misalnya, hampir setiap hari ketika dekat bulan ujian, mau tak mau mereka harus puas dengan seabrek soal untuk latihan.

Kebetulan saya memberikan bimbel untuk kelas 9 dan kelas XII. Nasib Guru bimbel, selalu disisakan semangat yang hanya tinggal 20%, bahkan tak jarang ditinggal tidur. Hal ini saya maklumi karena tenaga dan pikiran siswa saya sudah habis digunakan untuk menerima seabrek pelajaran. Melihat keadaan ini saya banyak bertanya kepada siswa, cara belajar apa yang diinginkan, supaya bimbingan belajar menjadi hal yang menyenangkan.

1. Belajar di Luar Kelas.

Cara belajar seperti ini paling banyak disarankan oleh siswa. Sembari merasakan udara luar, siswa saya ternyata lebih bisa berkonsentrasi dan menerima penjelasan dengan lebih santai dan segar. Untuk cara ini, sebaiknya digunakan ketika pembahasan soal, karena tidak begitu membutuhkan papan tulis untuk menerangkan materi. Selain di halaman sekolah, Mushola dan perpustakaan bisa menjadi alternatif yang cukup menarik.

2. Menggunakan Sedikit Trik.

Saya mendapatkan trik ini ketika kuliah. Ketika saya coba ternyata trik ini cukup membangkitkan semangat siswa ketika membahas soal. Tidak terlalu sulit. Soal pertama saya yang membaca, kemudian soal ke 2 saya menunjuk salah satu siswa laki-laki. Siswa tersebut harus menjawab dengan benar, kemudian giliran dia yang memilih satu teman perempuan untuk menjawab soal berikutnya, begitu seterusnya. Ikuti saja trik itu, diselah-selah siswa kita memilih siapa yang akan melanjutkan mejawab soal, kegembiraan akan datang dengan sendirinya. Hal ini terjadi ketika slah seorang siswa laki-laki atau perempuan menunjuk anak yang memang dijodoh-jodohkan oleh teman sekelasnya. Atau yang ditunjuk adalah tim penggembira kelas mereka.

3. Selingi dengan Musik.

saya gunakan cara ini ketika saya memberi catatan di papan, atau memberi tugas mengerjakan soal. Ketika saya menulis di papan, untuk materi yang agak panjang dan rumit. Sembari menulis saya membolehkan siswa mendengarkan musik. Dengan syarat, tulisan harus lengkap, dan mulut tetap tak bersuara. Ada sebagian kelas yang tidak egois, satu suber musik di suarakan agak keras, supaya teman yang lain bisa mendengarkan. Begitu selesai menulis, tidak ada musik. Giliran saya memberi penjelasan.

Selama mengajar, cara-cara seperti inilah yang saya lakukan untuk mengurangi kejenuhan yang melanda siswa saya. Semoga bermanfaat.

posted under Pendidikan | 13 Comments »

Etika Berpakaian Seorang Guru

February7

Orang jawa menyebutkan bahwa Guru berasal dari kata “digugu lan ditiru”. Artinya bahwa seorang Guru harus bisa dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif. baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya ketika di sekolah. Peraturan sekolah selalu memberikan aturan kepada semua siswanya mulai dari A sampai Z. Termasuk bagaimana bentuk seragam mereka. Rata-rata sekolah mengharuskan seragam siswa tidak neko-neko. Misalnya, celana siswa putra tidak boleh domodel seperti celana pensil, atasan tidak boleh dimodel jangkis, kaos kaki harus putih dan hitam saja, sepatu harus bertali, dan sebagainya. Begitu pula dengan anak perempuan, bawahan panjangnya harus mencapai lima centimeter dibawah lutut, atasan tidak boleh ketat, bagi yang berkerudung tidak diperbolehkan memakai kerudung instan, dan lain-lain.

BAnyaknya peraturan yang menjerat siswa bisa saja menimbulkan protes yang luar biasa, jika ada salah seorang Guru yang berbusana diluar etika. Misalnya, “Bu X pake rok mini,..ketat,..dibelah belakang lagi,…gitu aja dibiarin,…lipstiknya merah banget lagi,..belum lagi sepatunya tuh,..tinggi banget kek tangga,…huh coba kita yang pake rok pendek dikit pasti deh,..lari lapangan,…hormat bendera“. Pernah mendengar celotehan ini / atau bahkan kita yang pernah mengatakan hal yang sama semasa sekolah dulu ?

Segalanya jelas,..karena si murid merasa sekolah tidak adil,…jika mereka dijerat oleh banyak peraturan. Ada baiknya Dewan guru dan karyawan pun dikenakan peraturan yang sama mendidiknya. Intinya seorang guru haruslah berpakaian yang sopan jika ke sekolah. mengenakan pakaian yang sesuai ukuran tubuh (tidak terlalu ketat atau kedodoran) begitu pula dengan model bajunya. Menggunakan tata rias yang jauh lebih natural (Ndak norak,..yang penting kelihatan bersih). Sepatu yang digunakan pun jangan yang berlebihan, hindari hak terlalu tinggi dn motif yang terlalu rame. Perhiasan dan asesoris sewajarnya saja, jangan sampai dapat julukan toko mas berjalan daari murid kita.

Yang terpenting dari semua itu ialah menjaga segala tingkah dan laku. Termasuk perkataan dan pergaulan sesama guru. Karena apa yang dilihat oleh anak didik kita akan selamanya melekat. Julukan Bu Hebring (berlebihan memakai perhiasan), Miss RingRing (Tukang telpon), dan sebagainya ialah berasal dari perilaku dan cara seorang guru mendandani fisiknya. Semoga bisa saling berintropeksi 🙂

posted under Pendidikan | No Comments »

Penyebab Anak Terlambat Masuk sekolah

January23

Penyebab anak sering terlambat masuk sekolah terjadi karena beberapa hal. Bisa jadi Orang Tua atau keluarga, Lingkungan, dan si anak itu sendiri. Keterlambatan ini menyebabkan anak sering mendapatkan hukuman di sekolah alias disetrap. Dampaknya, si anak menjadi kebal dengan beragam hukuman yang diberikan oleh Guru di sekolah. Meskipun hukuman itu bertujuan membuat si anak jera dan tidak megulangi hal yang sama.

1. Faktor Keluarga.

Pernah mendengar, atau melihat kisah tentang anak keluarga miskin yang harus bersekolah sembari bekerja ? saya punya murid yang cukup cerdas, namun berasal dari keluarga miskin. Dia terpaksa membantu neneknya menjual susu sapi sebelum berangkat ke sekolah. keuntungan dari susu tersebut digunakan untuk uang saku sekolahnya. Sedikit memeng, tetapi uang itu sangat bermanfaat baginya. Saya bertanya-tanya mengapa setiap kelas saya dia selalu terlambat.

Ternyata, itulah sebab kenapa dia sering terlambat masuk sekolah. Selain itu dia berjalan kaki untuk sampai di sekolah. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi. seorang pelajar selalu terlambat masuk sekolah karena harus membantu orang tuanya berjualan hanya untuk memenuhi uang sakunya. Belajar dari pengalaman ini. Pihak Sekolah memberikan beasiswa kepadanya. Tentunya lebih selektif memilih siapa saja yang benar-benar membutuhkan beasiswa tersebut. Alhasil,…murid hebat itu tidak pernah terlambat lagi. Karena biaya sekolahnya lebih ringan, dan orang tuanya cukup terbantu tanpa harus melibatkan anaknya ketika menjual susu.

2. Faktor Lingkungan

Pergaulan adalah hal yang paling cepat mempengaruhi psikologi seorang anak. Terutama dengan siapa si anak berteman. Misalnya, lingkungan seorang anak berada ditengah masyarakat yang terbiasa disiplin mengatur waktu. Mulai pagi hingga malam, semuanya telah terjadwal dengan baik. Termasuk dalam mengatur sekolah anaknya.Lingkungan yang seperti ini biasanya mempengaruhi aktifitas seorang anak. Sebelum subuh sudah bangun dan melalukan aktifitas sekaligus melibatkan si anak, akan melatih si anak untuk bangun lebih awal. Jika sudah terbiasa seperti ini, cerita keterlambatan anak mungkin sudah tidak terdengar lagi.

Jika kita sebagai orang tua, tidak hidup pada lingkungan seperti itu. Maka kita bisa menciptakan lingkungan sperti itu dalam rumah mungil kita. Kerjasama antar angggota keluarga sangat dibutuhkan. anggap saja bekerja dalam tim. awalnya memabg susah, seiring kebiasaan segalanya akan terlampaui dengan baik.

3. Faktor Pribadi

Rasa malas ialah penyakit yang hanya bisa disembuhkan oleh diri kita sendiri. Bagaimanapun bentuk motofasi yang diberikan kepada si anak untuk tidak terlambat masuk sekolah, tidak akan ada gunanya jika si anak tidak menginginkan perubahan itu. Namun, sebagai orang tua kita harus belajar memahami alasan kenapa anak kita tidak mau berubah dalam hal kedisiplinan. Guru adalah orang tua kedua setelah Ayah dan Ibu. Karakter Guru bermacam-macam, yang sesuai dengan hati si anak akan jadi Guru favorit di sekolah. Begitu sebaliknya, jika Gurunya dianggap tidak asik dimata si anak maka akan menjadi orang yang sangat menyebalkan.

Karena pengalaman inilah si anak kadang menanamkan pada dirinya. Bahwa berangkat sekolah di hari Selasa tidak perlu tepat waktu. Karena Pak X yang mengajar matematika tidak asik. Mengulur waktu dengan bermalas-malasan di rumah atau mengulur waktu di kamar mandi, merupakan bentuk protes si anak. Hasinya adalah si anak sengaja berangkat terlambat ke sekolah.

singkatnya seperti itu, semoga bermanfaat. Masih banyak hal yang bisa diketahui alasan seorang siswa selalu terlambat masuk sekolah. Mengajarkan disiplin kepada anak haruslah dimulai dari orang tua yang melakukan disiplin itu pada keseharian mereka dalam sebuah keluarga. karena mengajarkan sesuatu kepada anak yang paling efektif adalah biarkan anak itu meniru segala kebiasaan kita 🙂

posted under Pendidikan | 6 Comments »

Berbagi Cerita Seputar TPA

December5

Ini adalah pengalaman saya tentang menitipkan anak. Saya lebih dulu selesai kuliah dibandingkan suami. Namanya berumah tangga, hidup terpisah sama sekali tidak nyaman. Meskipun ada waktu bertemu setiap akhir pekan. Berjauhan dengan suami bukalah tanpa alasan. Saya harus mengajr disebuah LBB, dan suami harus memenuhi jadwal kuliahnya. Saya memilih tinggal di Mojokerto karena tidak mau berpisah dengan anak saya yang baru berusia 6 bulan. Suami terpaksa harus kos di Surabaya, karena masih tercatat sebagai Salah satu Mahasiswa dari sebuah kampus ternama.

Pada akhirnya saya menyerah dengan keadaan seperti ini. Keputusan harus saya ambil. Saya harus ikut suami, meskipun saya harus berhenti mengajar untuk sementara waktu. Si kecil saya ajak serta. Tinggal di sebuah kos-kosan kecil yang cukup nyaman. Baik suasana dan tetangganya, Kebetulan tempat tinggal sementara kami itu masuk kawasan perumahan dosen. Untunglah anak saya cukup baik dalam beradaptasi.

Sekilas Qays nampak baik-baik saja dengan kesehariannya bersama saya dan Ayahnya. saya sadar satu hal, Qays butuh teman sebaya untuk diajak bermain. Tentunya dengan bahasa anak-anak dan kebiasaan anak-anak. Mainan, hiburan, bahkan perhatian kami ternyata belum sempurna, Qays butuh teman. Setiap sore, Ibu-ibu berkumpul di depan kompleks. Sembari menyuapi anaknya bahkan menemani bermain.

Sampai akhirnya berujung pada pembicaraan Qays biasanya main sama siapa kalau pagi ? berawal dari perbincangan itu, Mama Echa memberikan saran untuk memasukkan Qays ke TPA kampus Hang Tuah. Beragam palaman positif diutarakan oleh Mama Echa. Malamnya saya berdiskusi dengan suami. Awalnya saya ragu-ragu, karena saat itu banyak kasus penganiayaan anak dan penculikan anak. Suami lebih bijak menyikapi kasus tersebut, dan terus meyakinkan saya bahwa TPA lebih banyak manfaatnya.

Bismillah,..saya pun menyepakatinya. Pagi, sekitar pukul 08.00 saya, Qays, dan Ayahnya datang ke TPA yang dimaksudkan Mama Echa. Lokasinya berada di dalam kampus, tepatnya di Lab Penelitian Perkembangan Anak, yang memang digunakan oleh Mahasiswa jurusan Pasikologi Hang Tuah ketika mereka membutuhkan subjek penelitian. Terutama perkembangan Psikologi anak. Qays tertarik dengan tempat barunya itu. Karena lebih banyak teman seusia dia, dan beragam mainan baru. Tenaga pengasuhnya cukup profesional. Paham akan kondisi anak kecil dan apa saja yang menjadi kebutuhan anak seusia Qays.

Semakin yakin, hari itu juga saya dan suami mendaftarkan Qays. Masih dalam tahap mencoba, kami membayar harian, nanti kalau Qays sudah betah baru per bulan. Pengasuh Qays selalu menekankan kepada kami sebagai orang tua. JIka Qays sudah diantar ke TPA kami harus ikhlas dan tega, dalam artian tidak boleh memikirkan Qays secara berlebihan. Intinya harus percaya kepada yang mengnasuh dan percaya bahwa Qays akan baik-baik saja. TPA menjadi tempat dan pengnalaman baru bagi Qays. Qays bisa punya teman, Ayahnya bisa bekerja dengan leluasa, dan saya bisa mengurus pekerjaan rumah tangga tanpa harus was-was ketika masak Qays akan ikut main pisau, atau tabung gas.

Ceritanya bersambung yaaaa 🙂 !.

Tempat Penitipan Anak (TPA)

December3

Belum terlupakan, ada yang pernah berkata, bahwa perempuan terlahir dalam tiga kesempatan. Kesempatan pertama terlahir sebagai dirinya sendiri (bayi perempuan). Kesempatan kedua terlahir sebagai seorang istri. Ketiga terlahir sebagai seorang ibu. Bagi yang telah terlahir dikesempatan ketiga ini, tentunya bisa merasakan bagaimana suka dan dukanya menjadi Ibu.

queen n qays

Sering kita jumpai, terutama di kota-kota besar. Seorang Ibu memiliki peran ganda, harus menjadi Ibu yang sesungguhnya sekaligus berkarir. Beragam alasan yang dikemukakan, mengapa mereka harus menjalani dua hal tersebut. Salah satunya adalah demi mempersiapkan masa depan terbaik si kecil, para Ibu itu rela membagi waktu mereka. Antara keluarga dan karir.

Ketika pagi dimulai, mereka harus mrnyiapkan segala kebutuhan, untuk si kecil dan suami tercinta. Pukul 8 pagi sudah harus berada di tempat kerja (kantor. sekolah, rumah sakit, dll). Hingga nanti pukul 4 sore. Nah, si kecil ? tak jarang anak-anak mereka yang masih kecil terpaksa ditinggal di rumah dengan neneknya (seperti saya :(), solusi lain ialah membayar jasa pengasuh. Namun, kasus pengasuh yang menyiksa anak majikan menjadikan para ibu enggan mengambil langkah ini.

Solusi lain ialah mempercayakan anak mereka kepada lembaga penitipan anak. Lebih dikenal denga sebutan TPA. Apa TPA itu sebenarnya ? Kalau menurut saya, TPA ialah sebuah jasa kepengurusan anak yang dikelola secara kolektif. Keberadaan TPA mulai menjamur di kota-kota besar. Karena sudah jelas siapa yang menjadi sasarannya.

Keberadaan TPA cukup membantu, terutama bagi para Ibu yang harus bekerja sampai sore. Selama bekerja si kecil bisa dititipkan kepada TPA dengan para perawat yang sudah terlatih, bahkan teruji kesabaran dan ketelatenannya. Namun, keberadaan TPA ini tidak semuanya pro. Ada beberapa orang tua yang bertahan untuk tetap menitipkan anaknya kepada orang tua atau sanak keluarga. Alasannya karena takut anak mereka tidak dirawat dengan baik dan aman. Bahkan, banyak orang tua yang rela bertemu anak-anak mereka seminggu hingga sebulan sekali karena rasa takut tersebut.

Segala keputusan pasti ada resiko yang harus dihadapi. Begitu pula dengan keberadaan TPA. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua.TPA memiliki sisi positif yang menguntungkan, juga memiliki bagian yang harus disikapi secara hati-hati dan lebih bijak.

posted under Umum | 5 Comments »

Belajar dengan Alam

November29

Teringat sebuah pengalaman. Berawal dari sms seorang teman, yang memberikan tawaran mengajar di sebuah SMP. Ketika tawaran itu datang, saya sedang tidak bekerja. Lokasi SMP tersebut di salah satu pegunungan yang berada di Mojokerto. Jarak sekolah dari rumah saya cukup jauh. Saat itu juga rasa kangen untuk kembali mengajar mulai timbul. Pertimbangan demi pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.

Saya datang secara langsung ke SMP tersebut. Bertemu dengan salah seorang petinggi di SMP tersebut. Hari itu juga saya menjalani sederetan tes dan wawancara. Kalimat klisik yang muncul, “Nanti kami hubungi kembali !”. Dua hari kemudian, saya ditelepon dan diminta mengajar hari itu juga. Sekolah ini berbasis pesantren, cabang dari sekolah ternama di Surabaya.

Awal mengajar, saya mendapatkan banyak sekali kejutan. Seperti ini kejutannya :
1. Ruang kelas tempat saya mengajar adalah di depan kamar tidur santri.
2. Memakai sepatu dan berpakaian rapih adalah kostum yang salah.
3. Waktu KBM tidak sesuai jadwal yang tertera.
4. Saya harus mengajar tidak hanya ditemani siswa (santri), tetapi saya juga ditemani bantal, guling, kasur, dan jemuran.

Benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala. Terakhir mengajar, saya mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Kelas yang dijaga kebersihannya, ber-ac, bahkan ruang guru yang cukup nyaman. Bahkan untuk berlama-lama pun tak masalah. Kembali lagi pada kejutan. Namun,otak saya tak mau berhenti berpikir. Bagaimana caranya supaya saya dan para siswa nyaman ketika belajar ?

Kelebihan SMP berbasis Pesantren tersebut ialah berada di tengah alam yang hijau dan sejuk. Satu hal yang saya suka, Guru bebas membawa siswa belajar di luar. Kesempatan ini saya gunakan dengan sebaik-baiknya. Setiap mengajar saya selalu membawa mereka ke sungai dengan bebatuan yang besar. Air sungai yang jernih, suasana yang tenang, dan udara yang sejuk. Belum lagi hutan pinus yang selalu rimbun :). Belajar menulis puisi? pas banget!.


Dari pengalaman ini saya sadar.Ternyata setiap kekurangan memiliki sisi lebih yang bisa menjadi potensi luar biasa. Salah satunya meningkatkan kemampuan belajar dengan menyeimbangkan diri dengan alam.

posted under Pendidikan | 4 Comments »

Seragam Seorang Guru

July18

Bismillahirrahmanirrahim…

Lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri memberikan banyak kemudahan bagi saya. Terlebih jurusan yang saya ambil adalah pendidikan. Tepatnya bahasa Indonesia.

Saya punya beberapa pengalaman mengajar, dan semuanya luar biasa. Setelah menikah saya semakin mendapat pelajaran yang berharga. Tentunya dari suami tercinta.

Pelajaran tersebut beragam. Salah satunya adalah etika berpakaian bagi seorang muslimah (di Google lengkap). Akhirnya saya memutuskan untuk memakai pakaian (baca abaya, gamis, atau jubah) untuk melamar kerja di salah satu sekolah swasta di Surabaya.

Saya memang diterima, karena Cara mengajar yang dianggap memenuhi syarat (menurut Kasek). Namun begitu saya meminta ijin untuk mengenakan pakaian abaya untuk mengajar, Beliau menolak.

Jika sekolah tersebut bisa menerima siswa beragama selain Islam, mengapa saya harus dijadikan masalah?

Pengalaman lain, ketika sudah tidak bekerja lagi di sekolah A. Saya kembali mengajukan lamaran ke sekolah B. Tanpa berpikir, bahkan bertanya saja tidak. Lamaran saya diabaikan. Lagi-lagi karena abaya saya. Saya disangka istri “teroris”.

Ya… Sudahlah. Alloh Maha Tahu. Dua minggu kemudian saya mengajukan lamaran lagi ke sekolah C. Masih di kawasan Surabaya. Pihak sekolah melakukan sederetan tes.

Pembuatan RPP Dan simulasi mengajar sudah pasti. Saya pikir cukup. Ternyata saya masih harus menjalankan tes tentang pengetahuan agama dan tes mengaji.

Ada pertanyaan yang terlontar,”Bu Lara ini Islam berbendera apa? Hijau, biru, orange, atau Hitam?”. Lagi-lagi karena abaya saya.

Ya Alloh….apa Ada yang salah dengan baju yang saya kenakan itu ?

Apakah memang baju mengajar seorang guru sudah memiliki ketetapan harus begini dan begitu? Tidak boleh begini dan begitu ?

Katanya Bhineka Tunggal Ika…. Masih berbeda cara berpakaian saja sudah disangka macem-macem…. Belum lagi kalau ternyata saya bisa bikin BOM (Bakso Oedang Maknyus) Astagfirullah.

posted under Umum | 1 Comment »

CONTOH KONTRAK BELAJAR

July25

Dalam kegiatan belajar mengajr bukan hanya kerja sama antara pendidik dan peserta didik saja yang menjadi poin penting. Sarana dan prasarana yang memadai dan mendukung pun ikut memberikan peranan dalam keberhasilan belajar siswa. Peraturan sekolah yang dibuat secara sepihak kadang-kadang menciptakan pemberontakan kecil pada diri siswa. Seandainya semua aturan sekolah berasal dari kesepakatan Guru dan Siswa mungkin saja akan ada cerita yang berbeda. Masing ingat dengan kontrak belajar?
Kontrak belajar ialah salah satu aturan yang diciptakan sendiri atas dasar kesepakatan. Tentunya antara pihak pendidik dan pihak yang dididik. Siswa dilibatkan langsung ketika proses pembuatan kontrak belajr berlangsung. Berikut contoh kontrak belajar yang saya buat dengan siswa MAN 2 Madiun ketika berPPL. Kebetulan, kontrak belajar ini berlaku untuk mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Tetapi, dapat disesuaikan dengan setiap mapel karena pada dasarnya sama saja.

KONTRAK BELAJAR
MATA PELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
1. Siswa harus datang tepat waktu, dispensasi waktu hanya 15 menit.
2. Siswa yang datang lebih dari dispensasi waktu yang ditentukan, dapat mengikuti pelajaran dengan membawa ijin tertulis dari Wali Kelas dan Kepala Sekolah.
3. Siswa harus berseragam rapi dan sopan sesuai ketentuan umum dari sekolah.
4. Siswa harus bersikap sopan dan santun selama pembelajaran berlangsung.
5. Siswa dilarang mengaktifkan telepon genggam ketika pelajaran berlangsung.
6. Siswa dilarang makan dan minum diluar jam istirahat.
7. Siswa harus menggunakn bahasa Indonesia yang baik dan benar selama pembelajaran berlangsung.
8. Siswa harus mengerjakan semua tugas dari Guru yang berhubungan dengan pelajaran.
9. Siswa bersama dengan Guru menentukan hukuman bagi siswa yang melanggar kontrak belajar (hukuman yang mendidik).
10. Siswa harus menaati dan melaksanakan kontrak belajar yang telah dibuat dan disepakati oleh Guru dan siswa.
Contoh kontrak belajar di atas, merupakan contoh kontrak belajar yang sederhana. Kontrak belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan. Tentunya dengan bertolok ukur pada kesepakatan siswa dan Guru. Kontrak belajar di atas dapat dikembangkan dalam beberapa kategori. Misalnya, menyertakan kewajiban dan hak siswa, begitu pula dengan kewajiban dan hak Guru. Dengan begitu kegiatan belajar mengajar akan lebih lancar,…semoga saja hehehehe ☺. Selamat mencoba ya Bapak dan Ibu Guru terhormat!

posted under Pendidikan | 5 Comments »
« Older EntriesNewer Entries »

Yuk Kenalan dengan Penulis